Malam makin larut, tetapi suasana di area ruang penjagaan belakang mansion Heru masih diwarnai gelak tawa pelan. Jio duduk bersandarkan kursi plastik sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja kayu. Di tangannya, sebatang rokok yang menyala menghembuskan asap tipis ke udara. Di hadapannya, Gunawan sedang duduk menumpang dagu sambil menyesap secangkir kopi hitam yang mulai dingin.“Puas betul aku melihat muka si Bisma tadi,” ujar Jio seraya terkekeh sinis. Matanya berkilat penuh kemenangan. “Sok jagoan, sok paling tenang di depan Tuan Heru. Sekalinya kena hukum push-up seratus kali di depan mata Tuan, kelabakan juga dia.”Gunawan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menatap temannya itu dengan raut ragu. “Tapi Jio, si Bisma tadi tetap kelihatan tenang-tenang saja pas ngerjain hukuman. Nggak ada mengeluh atau protes sama sekali.”“Alah, itu cuma gengsi!” potong Jio cepat seraya mengibas-ibaskan tangannya di udara. “Setinggi apa pun gengsinya, dia tetap cuma pengawal di r
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-20 อ่านเพิ่มเติม