Rania tersenyum miring. Embusan napas kasar keluar begitu saja sebelum akhirnya ia angkat bicara. "Dengar, apa pun alasannya tak menyurutkan keputusanku untuk kembali padamu, Mas!"Rania menarik napas dalam-dalam. "Jangan pikir aku tidak tahu alasan Mas dekat dengan Mia dulu!" Rania tersenyum sinis. Ardi gelagapan. "I-itu ... itu ...,""Apa?!" potong Rania, "sebutan apa yang pas untuk Mas setelah Mas lampiaskan semuanya pada Mia dan sekarang Mas berpikir Mas berhak mendapatkan aku."Ardi berpaling muka. Rania menarik napas panjang. "Laki-laki bejat, bajingan, atau brengsek?" lanjutnya, sambil menatap Ardi. Ardi hanya diam.Suasana hening. "Cintaku sama Mas sudah lama mati," kata Rania lagi. Ardi menatap Rania. Tatapan kecewa, tetapi di balik luka itu, ia masih berharap seolah-olah satu penolakan belum cukup untuk membuatnya menyerah. "Sebelum Mas benar-benar menyesal," sambung Rania, "cari Mia! Dia tulus mencintai Mas. Dia rela mengorbankan segalanya untuk Mas Ardi.""Tapi, Sa
Terakhir Diperbarui : 2026-09-01 Baca selengkapnya