Handsome CEO

Handsome CEO

By:  Nrshfms  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
35Chapters
1.3Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Tingkah Nadiar yang konyol dan Alvis yang judes semoga dapat menghibur pembaca. Sesuai nama tengah mereka, Alvis Lucifer Gideon adalah Lucifer, yang berarti iblis terkuat. Itulah sifatnya, yang berarti jahat. Dan Nadiar Gabriela Putri adalah Gabriel, yang berarti malaikat terkuat. Itulah sifatnya, yang berarti mulia. Disaat Alvis di cap sebagai psikopat gila, Nadiar di cap baik oleh sekitarnya. Dan disaat Alvis bahkan dapat dengan mudahnya membunuh manusia, Nadiar selalu merasa berdosa saat membunuh seekor semut. "Kamu benar, Nad. Kita bener-bener berbanding terbalik. Aku Lucifer, dan kamu Gabriel. Aku iblis, kamu malaikat. Aku jahat, dan kamu baik. Pertanyaannya ... apa kita bisa berakhir bahagia?" -Alvis ***

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
35 chapters
one ; like i'm gonna lose you
Tingkah Nadiar yang konyol dan Alvis yang judes semoga dapat menghibur pembaca.Sesuai nama tengah mereka, Alvis Lucifer Gideon adalah Lucifer, yang berarti iblis terkuat. Itulah sifatnya, yang berarti jahat. Dan Nadiar Gabriela Putri adalah Gabriel, yang berarti malaikat terkuat. Itulah sifatnya, yang berarti mulia.Disaat Alvis di cap sebagai psikopat gila, Nadiar di cap baik oleh sekitarnya. Dan disaat Alvis bahkan dapat dengan mudahnya membunuh manusia, Nadiar selalu merasa berdosa saat membunuh seekor semut."Kamu benar, Nad. Kita bener-bener berbanding terbalik. Aku Lucifer, dan kamu Gabriel. Aku iblis, kamu malaikat. Aku jahat, dan kamu baik. Pertanyaannya ... apa kita bisa berakhir bahagia?" -Alvis***Alvis POVAku menggeram. Mataku menatap tajam pada dua penjaga yang sedang berdiri di ambang pintu yang tidak juga membuka penghalang untukku masuk ke dalam sebuah undangan pe
Read more
two; bring it back
"Masuk!"Pintu tinggi yang barusan diketuk dari luar itu terbuka, menampakan seorang lelaki muda berjas hitam yang tersenyum pada seseorang yang duduk di kursi singgasananya.Lelaki yang duduk itu membuka kacamatanya, lalu menyandarkan punggungnya di kursi."Pak Alvis-""Gausah basa-basi, lo! Udah keluar, juga." Lelaki yang duduk di kursi singgasananya itu bersuara, memotong panggilan dari lelaki berjas itu.Lelaki yang masih berdiri di ambang pintu itu tertawa pelan mendengarnya. Kakinya lalu melangkah masuk lebih dalam dengan sebuah map berwarna coklat yang dibawanya. Ia berjalan santai menghampiri lelaki yang tadi dipanggilnya Pak Alvis.Hingga akhirnya ia sampai di samping meja Alvis yang berantakan. Di sana terdapat banyak kertas dan juga map-map yang bertebaran. Juga 1 gelas, dan tanda pengenal yang di ukir pada kaca dengan tulisan;Alvi
Read more
three; closer
Nadiar menatap tampilan dirinya di cermin dengan mata berbinar senang. Ditubuhnya, melekat sebuah kemeja berwarna putih yang dilapisi blazzer hitam dan rok hitamnya yang berjarak sedikit di atas lutut. Sambil tersenyum, Nadiar merapikan rambutnya dan menyimpan gumpalan rambutnya melewati bahu. Senyum Nadiar melebar melihat tampilan dewasanya. "Aduhh, cantiknya ciptaanmu, Ya Allah ..." ucapnya sambil mendesah, kagum pada dirinya sendiri.Setelah bercermin beberapa menit, Nadiar lalu menggunakan sedikit bedak dipipinya. Setelah itu, memoleskan lipstik berwarna merah tebal dibibirnya. Melihat tampilan tante-tantenya, Nadiar cekikikan sendiri. "Aaa! Nadiar udah gede!"Tak tahan berlama-lama mengagumi diri sendiri, Nadiar mengambil tas di kasurnya, lalu memilih satu heels berwarna hitam di rak sepatunya. Ia kemudian keluar dari kamar dengan senyum yang memenuhi pipinya. Sampai di lantai 1 rumahnya, ia memasuki ruang makan dima
Read more
four; all i ask
Nadiar menghela napas untuk menenangkan dirinya. Ia lalu melepaskan pelukannya dari laki-laki yang kini bersamanya di dalam lift. Tangan Nadiar menarik jas lelaki itu, sedangkan ia melangkah mundur dan kembali menyandarkan tubuhnya di dinding lift. "Hey, sini dong! Gue takut, tau!!" suruhnya saat sadar tubuh lelaki itu masih terpaku di tempat."Lepas."Nadiar cemberut mendengar suara dingin itu. Ia lalu menghempaskan pegangannya di jas lelaki itu dengan sebal. Mata Nadiar kemudian menatap sekelilingnya yang gelap, membuatnya berdecak sebal. "Ini lift kenapa, sih? Perusahaannya elit, tapi liftnya gak elit."Sesaat setelah mengatakan hal tersebut, cahaya muncul saat lelaki yang bersama Nadiar menyalakan ponsel dan terlihat mengutak atik layarnya. Nadiar lalu mengambil ponsel di tasnya, kemudian menyalakan flash agar mendapat cahaya lebih banyak."Halo?"Tatapan Nadiar beralih pada lelaki
Read more
five; believe
Nadiar menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kepalanya tertunduk dalam saat Alvis membawanya masuk dan berhenti tepat di sebuah meja di luar ruangan lain dalam pintu tersebut."Di sini meja kamu," ucap Alvis dingin. "Kamu boleh masuk ke ruangan saya kalau saya yang suruh. Selebihnya, kalau ada apa-apa, telfon saja. Mengerti?"Sambil menelan ludahnya, Nadiar mengangguk cepat. "Me-mengerti, Bos."Alvis mengangguk. "Bagus," katanya. "Kalau begitu, saya masuk dulu. Nanti saya beri kamu tugas."Nadiar mengangguk cepat, bersamaan dengan Alvis yang langsung berlalu dihadapannya. Akhirnya, Nadiar bisa bernapas. Ia lalu menghela napas lega, mencoba menetralkan detak jantungnya yang meloncat gila-gilaan.Benar, kan? Hari ini akan sial. Soalnya, tadi Nadiar sudah terpeleset dengan tidak elitnya.Nadiar jadi ingin menangis. Matanya sudah berkaca-kaca dan bibir bawahnya sudah maju ke depan. "I
Read more
six; cold water
Alvis menutup pintu ruangannya, lalu menatap Nadiar yang sedang sibuk dengan komputer didepannya. Melihatnya, membuat Alvis mendengus pelan. "Saya ada pertemuan siang ini."Nadiar mendongak, lalu mengangguk. "Ya, bos. Di kafe dekat kantor ini.""Iya."Lalu hening. Keduanya saling menatap. Dan Alvis menunggu. Menunggu reaksi Nadiar selanjutnya. Namun, Nadiar tetap duduk dan menatap Alvis datar, lalu mengedip. Terus melakukan hal tersebut, dan Alvis terus menatap Nadiar."Bos?""Hm?""Bos ngapain masih di sini?" tanya Nadiar dengan alis yang bertautan."Kamu sendiri, ngapain masih duduk?""Saya kan kerja, bos.""Kamu gak akan menemani saya?""Hah?" Alis Nadiar bertaut dalam. Tangannya terangkat lalu menggaruk tengkuknya pelan. "Harus, ya, bos?"Alvis mendelik sebal. "Ya kamu pikir saja. Gunanya kamu ap
Read more
seven; fix you
Alvis baru saja keluar dari gedung perusahannya saat melihat Nadiar yang berdiri di halaman perusahaan sambil memeluk dirinya sendiri. Alvis mengerutkan alis. Ia memperhatikan dengan seksama saat ada mobil sedan berwarna merah yang terparkir tepat di depan Nadiar. Pengemudi sedan itu lalu keluar, dan menatap Nadiar dengan wajah berbinar senang.Nadiar buru-buru lari ke arah lelaki itu, lalu mereka berpelukan di sana. Si lelaki kemudian mengecup puncak kepala Nadiar, lalu mengelus pelan rambut perempuan itu.Walaupun dari jauh, Alvis masih dapat mendengar laki-laki itu bersuara. "Gimana kerjanya, sayang? Lancar?"Nadiar mengangguk cepat. "Lancar, tapi capek.""Capek banget?" tanya lelaki itu lagi.Nadiar kembali mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. "Kangen kamu."Lelaki yang di peluk Nadiar itu tertawa, lalu kembali mengecup puncak kepala Nadiar. "Kalo git
Read more
eight; trouble is a friend
"Psst! Cewek! Godain abang, dong~""Abang! Apaansih! Minggir, ah!""Godain abang, dong, cantik!""Abang!! Jangan ganggu!!""Psst, neng, godain abang, dong!!"Nadiar mengeraskan rahangnya. Tangannya kemudian mengambil bantal sofa, lalu melemparnya pada Alden yang sedang berdiri menghalangi tv. Dan sialnya, Alden berhasil menangkap bantal tersebut dan menatap Nadiar dengan seringai mengejek. Sekali lagi, Nadiar mengambil bantal dan melempar kembali ke kepala Alden. Kali ini, bantal tersebut malah melayang melewati kepala Alden. Dan sekali lagi, Alden memberi seringai mengejek dengan tatapan segitu-doang-kemampuan-lo?Nadiar menggeram kesal, lalu mengambil seluruh bantal di sofa untuk melempar pada Alden dengan membabi buta. Alden kabur, sedangkan Nadiar terus mengejar sambil melempar dan berteriak, "Harus kena, abang!! Ngalah dikit ama adek!!"Alden hanya
Read more
nine; heart attack
No edit.Ternyata, Alvis tidak mati.Sesaat setelah Nadiar menangis kencang, Alden datang dengan mobilnya dan menghampiri Nadiar yang masih sesegukan. Sadar ada orang lain di sana, Nadiar mengangkat kepalanya, dan tangisnya semakin kencang. "Abang!! Bos Diar meninggal, Bang!"Alden lalu berjongkok dan mengulurkan jarinya ke bawah hidung Alvis. "Dia masih hidup!" ucap Alden sambil berdecak dan menjitak kepala Nadiar kencang. "Lo kenapa lama banget, sih?! Gue di marahi nyokap, tau!"Nadiar sesegukan dan menyedot ingusnya kuat-kuat. "Abang mau marahin Diar? Sedangkan di sini ada orang yang lagi sekarat gara-gara Diar."Alden berdecak, lalu menarik tangan Alvis, kemudian menopang tubuh Alvis dengan punggungnya. Kepala Alden mengedik pada mobil yang ternyata sudah terparkir di sisi jalan. "Masuk!"Nadiar mengangguk, lalu buru-buru masuk ke dalam mobil.

Read more

ten; crazy
"AYAH!!" Nadiar berteriak kencang mendengar pertanyaan Ayahnya yang sangat membuat Nadiar ingin menenggelamkan diri sekarang juga. Apa-apaan itu?! Kenapa Ayahnya bertanya seperti itu kepada bos Nadiar? Dan pertanyaannya tidak melihat situasi dan kondisi.Itu anak orang sedang babak belur, dan baru saja bangun dari pingsan. Bisa-bisanya bertanya hubungan Nadiar dan Alvis yang jelas sekali tidak penting di pagi ini.Pak Sultan menoleh sambil nyengir lebar pada Nadiar. "Bercanda, sayang," katanya, lalu kembali menatap pada Alvis. "Maafkan saya, dan terima kasih karena telah menolong anak saya kemarin."Alvis hanya tersenyum tipis. Amat tipis, lalu di susul anggukan kepalanya."Sombong amat," komentar Alden dengan suaranya yang pelan. Dan Nadiar yang berada di belakang Alden mendengar dengan jelas kalimat tersebut.Nadiar mendengus. "Iyalah! Makanya, gue blacklist dia."

Read more

DMCA.com Protection Status