MasukKata orang, aku beruntung bisa menikah dengan seorang Dokter sukses dan tampan. Tanpa mereka ketahui, ada yang kurang dari rumah tangga kami. Sudah dua tahun menikah, namun aku masih perawan. Semua itu karena....
Lihat lebih banyakElara’s POV
The kitchen smelled like burnt bread and rosemary again. I wiped sweat from my forehead with the back of my wrist and shoved another tray of rolls into the massive stone oven. The heat blasted my face like a slap. My arms ached from kneading dough since dawn, and my feet—bare because my only pair of shoes had finally split at the seams—were throbbing against the cold flagstones. Another ordinary morning in Silver Moon Pack. Another morning being invisible. I was used to it. Most days, I told myself it didn’t matter. I had a roof, food (even if it was the scraps after everyone else ate), and a bed in the attic above the kitchens that no one bothered to check on. I was eighteen in three days. Three days until the full moon ceremony. Three days until the Moon Goddess finally showed me who I belonged to. That was the only thing that kept me breathing some nights. I pulled the tray out, the rolls golden and perfect. I arranged them on the cooling rack, counting silently to keep my hands steady. Twenty-four. Enough for the warriors’ breakfast. Not one extra for me. That was fine. I’d eat the heel of yesterday’s loaf later. The door banged open. Valentina Reyes swept in like she owned the place—which, technically, she almost did. Her father was the pack’s third-in-command, and she carried herself like the Luna she planned to become. Crimson lips, glossy black hair in perfect waves, leather boots that clicked with every step. Behind her, Sienna Moreau and Talia Voss followed like loyal shadows, smirking. Talia—my distant cousin, though she never let anyone forget how “distant” it really was—tilted her head. “Still playing maid, stray?” I kept my eyes on the rolls. “Just doing my job.” Sienna laughed, sharp and mean. “Your job is to stay out of sight. Yet here you are, stinking up the kitchen like always.” Valentina didn’t laugh. She never did when she could do something worse. She stepped closer, close enough that I could smell her jasmine perfume—expensive, imported, the kind I’d never touch. She reached past me and plucked a warm roll from the rack. Tore off a piece. Popped it in her mouth. “These are dry,” she said around the bite. “You really are useless at everything.” I clenched my jaw. “They’re fresh. Elder Mara asked for them exactly like this.” Valentina’s eyes narrowed. She leaned in, voice dropping to a venomous whisper. “You think the Elder likes you? She pities you. Everyone does. Poor little Elara Voss—no parents, no wolf, no future. Just waiting for some miracle mate to save her from scrubbing floors.” My throat tightened. I hated how her words always found the exact cracks in my armor. Sienna leaned against the counter, arms crossed. “Three more days, right? Your big birthday. Think the Goddess will actually give you someone?” Talia snorted. “She’ll probably pair her with a rogue. Or nothing at all. That would be fitting.” Valentina smiled then—slow, cruel. “If she gets anyone, it’ll be some low-rank wolf who can’t even hunt properly. Someone as pathetic as she is.” I stared at the floor. My nails dug into my palms. They waited for me to cry. To snap back. To give them the reaction they craved. I didn’t. I just turned back to the oven and pulled out the next tray. Valentina sighed dramatically. “Boring. Let’s go. I have training with Damon.” At his name, my heart gave a stupid, traitorous lurch. Damon Blackthorn. Future Alpha. Golden hair, green eyes that crinkled when he laughed (which wasn’t often, but I’d seen it twice—once when he helped a pup out of a tree, once when he won a sparring match and pretended it was nothing). Broad shoulders, quiet strength, the kind of presence that made the whole pack straighten when he walked by. I’d had a crush on him since I was fourteen. It was pathetic. I knew it. He’d never looked at me twice. Why would he? I was the kitchen girl. The one who disappeared when important people entered a room. But sometimes, late at night when the pack house was quiet, I let myself imagine it: him noticing me during the ceremony. The bond snapping into place. His eyes softening. Him saying my name like it mattered. Valentina must have seen something flicker across my face. She laughed—low, delighted. “Oh my Goddess. You like him, don’t you?” Heat flooded my cheeks. Sienna gasped. “No way. The stray has a crush on the Alpha?” Talia’s eyes gleamed. “That’s adorable. And tragic.” Valentina stepped even closer. Her perfume choked me. “Listen carefully, Elara. Damon is mine. Chosen. Promised. He’s not going to throw away his future for some weak-blooded orphan who can’t even shift. So keep your little fantasies in your dirty head where they belong.” She flicked a crumb from the roll onto my apron. “Clean this up before breakfast. Wouldn’t want the Alpha eating after you’ve touched it.” They left laughing, the door swinging shut behind them. I stood there, breathing hard. The rolls were still warm. I reached for one—then stopped. Instead, I picked up the fallen crumb and dropped it in the bin. Three days. Just three more days. I could survive three more days. After that, everything would change. I told myself that as I scrubbed the counters, as I carried trays to the dining hall, as I dodged the warriors’ careless elbows and the higher-rank she-wolves’ disgusted glances. I told myself that when I slipped upstairs at dusk, curled up on my thin mattress in the attic, and stared at the sliver of moon visible through the cracked window. Three days until the ceremony. Three days until I found out who the Moon Goddess thought I deserved. I closed my eyes and pictured Damon’s face—not the cold future Alpha, but the boy who’d once smiled at a pup. Maybe—just maybe—he’d look at me the same way. Maybe he’d see me. I fell asleep holding that tiny, fragile hope like it was the only thing keeping me warm."Kalian sudah punya nama untuk cucu, Mama?" tanya Inggrid pada anak dan menantunya. Setelah mendapat kabar bahwa Sisca sudah melahirkan. Inggrid, Bramanto, Agung dan Innaya datang ke rumah sakit. Mereka terlihat sangat bahagia melihat kelahiran cucu laki-laki mereka yang selama ini ditunggu-tunggu. Bahkan, Innaya tak sanggup menahan air matanya yang terus mengalir deras. Air mata bahagia. "Aku udah kasih nama, Ma," jawab Barta sambil menatap anaknya yang tampan. "Namanya siapa, Nak Barta? Emak penasaran," tanya Innaya. "Iya, Abah juga," imbuh Agung. Barta dan Sisca saling tatap. Keduanya tersenyum lebar. "Namanya Brian Wiyana Putra," jawab Barta. "Bagus. Nama yang bagus." Wajah Agung dan Innaya terlihat semringah, sangat setuju dengan nama pilihan sang menantu. Bayi di gendongan Inggrid sudah mulai risih, seperti meminta untuk dipindahkan ke atas ranjang. Inggrid sangat bahagia mendapatkan cucu dari Barta, meskipun bukan cucu pertamanya, karena kakak perempu
Barta mendekati istrinya yang hanya menggunakan handuk menutupi tubuh polos itu. Tatapannya tak beralih sedetikpun dari posisi Sisca berdiri. "Mas, kamu kenapa?" Kening Sisca berkerut, menatap bingung melihat suaminya berkeringat di ruangan full AC. Tidak menjawab apa-apa, Barta melangkah perlahan semakin mendekati istrinya. Mata Dokter tampan itu melebar, melihat sosok cantik tanpa busana di depannya. Di bawah sana, ujung tombaknya sudah berdiri tegak, efek obat yang direkomendasikan Lucky. Obat kuat itu benar-benar bereaksi sesuai keinginan. Setelah sekian lama pusakanya mati suri, kini ia bangkit dan mengeras. "Mas, kamu kenapa?" tanya Sisca, yang belum mendapatkan jawaban dari sang suami. Barta menggeleng sambil tersenyum mesum. Ia berdiri di depan Sisca, memegang kedua lengan istrinya erat. "By," panggilnya dengan napas terengah-engah. "Iya, kenapa?" Sisca mendongak, menatap suaminya lekat. "Kamu sakit?" Ia menempelkan punggung tangan di kening sang suam
Ah! Suara jeritan Sisca terdengar memenuhi ruang kamar saat suaminya menekan bagian bawah tubuh ke dalam sana. Akhirnya setelah dua tahun pernikahan mereka, Barta memenuhi kebutuhan nafkah batin untuk istrinya. "Mas, ka-kamu bisa?" Sisca meringis, menahan sakit di bagian inti tubuh. Barta tersenyum. Bulir bening mengalir membasahi wajah. "Iya, By. A-akhirnya aku bisa melakukannya." Ia terisak menahan tangisan haru. Sisca tertawa bahagia. Ekspresi wajah suaminya sukses mengocok perut. "Mas, ini bukan mimpi 'kan? Ini nyata? Kamu bisa?" Barta mengangguk yakin. "Ini bukan mimpi By. Ini kenyataan. Akhirnya aku bisa merasakan ini. Ahhh!" Ia mempercepat gerakannya, membuat suara pekikan Sisca semakin kencang. "Mas, sakit," rintih Sisca. "Maaf, By. Aku tidak bisa menahannya. Maaf ya, tolong tahan sebentar. Aku keenakan, By." Barta mendesah pelan sambil mengigit bibirnya. Sisca mengangguk. "Iya, Mas. Lakukan saja. Aku udah ngga sabar mau punya anak dari kamu." Ia tersen
"Nanya apaan sih kamu, Mas." Sisca berdecak sebal. Malas menjawab pertanyaan suaminya.Padahal dia sudah sering mengatakan kalau dia merasa beruntung mendapatkan suami seorang Dokter, dan dia merasa bahagia. "Jawab, By," desak Barta dengan tatapan lebih dalam. Tangannya menggenggam jemari lentik Sisca erat-erat.Sisca menatap mata suaminya yang mulai berembun. Bulir-bulir bening terlihat menggenang di kedua pelupuk mata sang Dokter."Mau Magrib, Mas. Mending kita masuk ke rumah!" kata Sisca, mengalihkan pembicaraan suaminya. Barta menarik napas panjang. "Katakan By. Aku mau dengar jawaban jujur dari hatimu. Apa selama ini kamu bahagia menikah sama aku? Atau ngga? Beritahu alasannya!" Sisca membuang napas kasar. Menepis genggaman tangan sang suami. "Bukannya aku udah sering bilang sama kamu kalau aku bahagia hidup sama kamu, Mas! Aku beruntung bisa nikah sama kamu."Barta menundukkan kepala. "Aku tahu kamu berbohong, i
Barta menatap ke arah pria baya yang baru saja keluar dari ruang akupuntur. Pria baya itu tersenyum ke arahnya. "Kamu kenal sama Bapak itu, Mas?" tanya Sisca berbisik. Barta mengangguk pelan. "Kalau ngga salah, dia ayahnya Dokter Lucky. Namanya Pak Hendro."Mendengar
"Maksudnya apa, Mas?" Sisca menatap suaminya dengan wajah memerah seperti udang rebus. Menahan amarah. Barta menghela panjang. "By, pengobatan gila seperti itu ngga mungkin aku lakukan. Aku ngga akan mengkhianati pernikahan kita."Sisca terisak menahan tangis, "Tapi ada pengob
Tidak seperti awal tiba di tempat praktek Dokter Lucky, sekarang Sisca sama sekali tidak takut pada Dokter Gadungan itu. Bahkan ia sudah tidak sabar ingin melihat Lucky dan menertawakan sang Dokter yang akan malu sendiri. Sisca dan Barta berdiri di depan ruangan Dokt
Wajah Barta terlihat semakin dingin setelah mendengar permintaan Lucky pada Sisca.Sementara Dokter di depannya tetap santai dan masih menyunggingkan senyuman ramah.Sisca hanya diam, tak berani mengiyakan permintaan Lucky karena ingin menjaga perasaan suaminya. Meski






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak