Saat Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Saat Istriku Tak Lagi Meminta Uang

By:  Galuh Arum  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9.9
Not enough ratings
57Chapters
286.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Ayu sudah bertahan menjadi wanita kuat menghadapi suami yang pelit. Namun, akhirnya dia tak kuat dan mulai mencari tambahan untuk uang sehari-hari. Akan tetapi, buaknnya berubah, sang suami malah semakin perhitungan. Belum lagi ibu mertua ikut campur dalam urusan rumah tangganya.Pada akhirnya, rumah tangganya hancur. Namun, sang suami baru menyesalinya. Bagaimana kisah kelanjutan kehidupan mereka?

View More
Saat Istriku Tak Lagi Meminta Uang Novels Online Free PDF Dowload

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
57 chapters
Satu
"Loh, Ma, kamu dari mana?" tanyaku saat istriku pulang dengan beberapa tentengan di tangan. "Ada kumpul-kumpul sama teman. Papa sudah pulang?" Istriku berbalik bertanya. "Ya, Mama lihatnya bagaimana?"  Istriku tersenyum, kemudian berlalu begitu saja tanpa memperdulikan aku yang baru saja pulang. Bukannya bertanya suaminya sudah makan apa belum, ini malah begitu saja melewati aku. Dia punya uang dari mana? Padahal, uang yang kuberikan tidak banyak. Kenapa dia bisa setiap hari pulang malam dan membawa banyak barang?  Aku teringat ibu tempo hari bilang kalau istriku kerap menitipkan anak-anak pada ibu. Sementara, ia tidak bilang mau ke mana. Hanya bilang akan kembali sore hari dan ibu pun sama curiga seperti aku. Apa yang dilakukan istriku, apa dia main serong? Dengan dada yang bergemuruh, aku bergegas
Read more
Dua
Seperti bumerang, aku serba salah menghadapi Ayu. Istriku sekarang malah lebih tegas dan membalikkan semua perkataanku. Bahkan, kali ini saja aku dibuat bungkam olehnya."Maaf kalau Mas salah. Mas hanya---""Berbakti pada orang tua? Membuat ibu senang karena ibu yang merawat dan membuat Mas hebat seperti ini, kan? Damar Prakoso, IT ternama dan terpecaya di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Benar bukan?" Hal yang aku takutkan begitu nyata. Senyumnya membuat diri ini merasa bersalah. Apa istriku tidak waras? Kenapa dia seperti itu? Senyumnya pun terpaksa gitu. Bersyukur deh, dia tahu apa yang aku pikirkan."Sudah, bersihkan wajahmu. Mas risih melihatnya." Ayu berlalu begitu saja. Ia ke kamar mandi membersihkan wajah seperti apa yang aku perintahkan. Saat ke luar kamar mandi, auranya semakin cantik. Membuat hasrat lelakiku bergairah, sepertinya aku akan bersenang-senang malam ini."Sayang,
Read more
Tiga
"Kata siapa?" Ayu yang lembut dan tenang kini berteriak seolah-olah aku bukan suaminya.Aku menahan sesak, gemuruh di dada begitu memuncak. Emosi pun kian membuat aku semakin panas berdebad dengan Ayu. Bisa-bisanya dia berteriak di hadapan suaminya."Kata Siapa aku berselingkuh, Mas?" Lagi, ia mempertanyakan padaku. Wajahnya semakin memerah menahan marah.Tidak mungkin aku mengatakan jika ibu dan Arman mengira-ngira saja karena mendengar ceritaku. Ini belum pasti, tetapi aku tak dapat mengontrol emosi."Bukan kata siapa-siapa, mana mungkin kamu bisa membeli beberapa barang. Apalagi lagi kamu sempat hangout bersama teman-teman kamu. Sedangkan--""Sedangkan kamu hanya memberikan sisa uang gaji setelah kamu berikan pada ibumu dan untuk kau pegang, kan?"Posisi ini membuat aku serba salah. Tak bertanya, tapi penasaran. Saat bertanya, malah menjadi bumerang untukku. Kenapa lagi-lagi membahas uang gaji, s
Read more
Empat
Apalagi ini? Ayu tampil sangat cantik. Dengan gamis maron senada dengan hijabnya yang baru aku lihat dan wajah glowing. Ini benar-benar istriku? Cantik sekali ia hari ini. Dada serasa cenat cenut melihatnya seperti itu. Astaga, kapan ia meminta uang untuk membeli gamis?"Mas, sudah jam 09.00. Jadi berangkat, nggak?" tanya Ayu."Eh, iya. Mas ambil kunci dulu." Aku melangkah masuk dengan kikuk, sampai aku tersandung meja. Apa ini namanya jatuh cinta sama istri sendiri. Untung saja masih istri sahku. Duh, kenapa jadi seperti ini, sih. Bisa-bisanya Ayu cantik seperti itu. Jadi pangling aku.Isi kepala penuh dengan bayangan wajah Ayu. Sampai lupa menaruh kunci mobil di mana. Astaga, Darma, gila kali ini, masa sampai lupa menaruh kunci mobil. Aku menepuk kening sendiri. Suara Ayu sudah terdengar tak sabar di luar. Juga suara anak-anak yang sudah kepanasan.Untung saja ketemu kuncinya. Gegas aku menghampiri mereka d
Read more
Lima
Kurampas cepat kartu nama yang bertuliskan CV Buana. Benar, ini atas nama Ayu Ningtias. Nama yang kusebut dalam ijab kabul sembilan tahun lalu, hanya saja tidak ada bintinya."Maen ambil aja, sih," keluh Arman dan mengambil kartu nama itu.Aku diam membisu. Selama ini Ayu menyembunyikan sesuatu dariku. Dia bekerja tanpa izin suaminya. Mana bisa seperti itu! Sudah jelas aku melarangnya bekerja, kenapa malah dia diam-diam dariku? Pantas saja dia seperti tak membutuhkan aku. Aku mendekati Arman yang memulai menelepon Ayu. Beberapa menit ia berbicara, tapi aku masih diam dan tak mengatakan jika itu benar istriku. "Oke, Bu Ayu. Kami tunggu datanganya. Kalau bisa datang ke kantor dan bertemu langsung dengan HRD atau CEO kita, bagaimana?" Arman bertanya pada Ayu. Namun, aku tidak tahu apa jawabannya."Oke, pukul 15.00. siap, nanti saya kirim alamat kantor kami." Lagi, Arman mengakhiri pembicaraan.Jadi, hari ini
Read more
Enam
POV AyuAku menarik napas panjang, untuk menghadapi suami macam Mas Damar. Harus banyak istighfar dan sabar. Merki bin kodot (pelit) dari dulu kenapa tidak hilang juga dari raganya. Bahkan semakin parah. Wajahnya memerah saat mendengar penuturanku. Panik bukan? Kamu pikir aku main-main dengan ancamanku? Lihat, apa yang akan kamu lakukan. "Maksud kamu apa bicara hal itu? Aku nggak suka dengan apa yang kamu katakan." Mas Damar membela diri lagi. Sejak tadi dia mencoba berargumentasi denganku, tetapi dia tetap kalah telak. "Masa kamu nggak ngerti. Apa harus aku perjelas. Ceraikan saja aku, Mas. Kembalikan pada keluargaku. Aku capek, punya suami kaya nggak ada. Kerja pontang panting, lelah, aku yang merasakan." Semua unek-unek itu akhirnya keluar juga. Dada ini terasa sesak saat ia menghabiskan banyak uang untuk keperluan keluarganya. Apalagi saat Asih mulai kuliah satu tahun lalu dan itula
Read more
Tujuh
Obatnya benar-benar paten, sampai aku baru saja terbangun dari tidur. Tubuh ini masih lemas dan terasa lapar. Memindahi sekeliling, rasanya sepi. Tidak terdengar suara anak-anak, apalagi Ayu. "Ma," panggilku. Tidak ada jawaban. Perlahan aku bangkit dan mencari mereka. Namun, aku sama sekali tidak menemukannya. Kemana mereka? Apa iya, Ayu tega meninggalkan aku saat sedang sekit seperti ini?Gegas aku mengambil ponsel untuk menghubunginya. Namun, sebelum itu, ponselku masih terbuka pesan dari ibu. Aku ingat sebelum tidur, aku mengirim pesan padanya.Ibu sudah membalas pesan dariku, tapi aku sama sekali tidak merasa membukanya. Apa jangan-jangan Ayu yang membacanya?Kepala ini semakin sakit, jangan-jangan Ayu pergi karena membaca pesan dari ibu. Kutepuk kening ini, rasanya hancur sekali mengingat pesan Ibu pastilah Ayu sangat sakit hati.Gegas aku menelepon Ayu. Sial! Sama sekali tidak diangkat. Bagaimana&nbs
Read more
Delapan
"Jelaskan sama Mas, apa benar yang dikatakan Mba Laras? Jawab Asih!" Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya. Emosi ini tak terbendung kala mengingat perkataan Ayu."Dia tidak ada niat belajar. Percuma buang-buang uang saja. Kamu pikir kuliah tidak mahal?" Aku mengusap wajah kasar. Demi keinginan ibu, Asih harus kuliah dan aku yang membiayainya. Namun, aku harus kecewa karena ia membohongiku."Jawab, Mas!""Sudah, kasihan adikmu," ujar Ibu.Tanganku mengepal keras, bisa-bisanya Asih berbohong padaku. Bagaimana bisa dia berbohong selama ini."Jaman sekarang, IPK banyak yang di palsukan. Coba kamu mampir aja ke daerah ujung, pasti deh banyak jasa edit yang pasti persis dengan hasil asli dari kampus." Kini Mba Laras kembali berujar."Mas nggak mau tahu, semester ini, kalau kamu masih saja jelek nilainya, lebih baik kamu selesaikan saja kuliahmu." Semoga saja ancamanku berhasil kali ini.
Read more
Sembilan
POV ibu Damar"Mas kamu kebangetan. Dia malah membela istrinya dari pada ibu." Aku mulai kesal karena Damar sekarang malah memilih Ayu dari apa aku. Aku pun kesal dengan Laras. Sejak dulu dia selalu bertentangan denganku. Seperti sekarang, dia sepertinya lebih berpihak pada Ayu dari pada aku. Kasihan sekali Asih, jatah uang jajannya harus berkurang."Iya, aku juga kesal. Masa jatah jajanku berkurang. Bagaimana aku bisa kuliah, Bu? Mana Mba Laras bongkar semuanya. Sebenarnya dia anak ibu apa bukan, sih. Kok malah membela si Ayu itu." Asih pun sama kesalnya denganku. Laras anakku, tapi sikapnya berbeda memang. Ia diasuh ibuku dulu karena aku bekerja dan Laras tak mau kembali tinggal bersamaku. Setelah ibuku meninggal, barulah ia kembali tinggal bersamaku.Namun, ia sangat berbeda. Entah, apa yang ibuku ajarkan padanya. Tak pernah mau menuruti kemauanku. Bahkan, memberikan sebagian gajinya saja tidak ma
Read more
Sepuluh
"Perkara wanita banyak di dunia itu masalah kesekian. Harusnya Ibu membantu mempertahankan pernikahanku dengan Ayu. Bukan malah mendukung perceraian kami. Apa Ibu nggak mengerti perasaanku?" Aku menahan emosi yang memuncak di dada.Bisa-bisanya Ibu berlaku seperti itu. Salah apa Ayu padanya, selama menikah istriku tak pernah berkata kasar padanya. Baru kali ini Ayu mengatakan hal yang benar-benar sudah ia pendam selama ini. Keluhan demi keluhan Ayu selalu aku abaikan. Aku tidak suka saat ia mengatakan Ibu begini dan begitu. Kupikir semua mengada-ada. Nyatanya, semua terjadi seperti itu."Untuk apa Ibu mendukung kamu. Istri kamu pembangkang, apa yang harus dibanggakan? Kecantikan luar tidak menjamin hatinya baik." Lanjut Ibu lagi.Kulirik Mba Laras yang mulai gusar. Ia memilih ke luar dari kamar Ibu. Kupikir dia malas mendengar perdebatan kami. Kalau seperti ini, Ayu akan menjadi benci padaku."Ini rumah tanggaku. Ibu nggak
Read more
DMCA.com Protection Status