Kamu Akan Miskin, Mas!

Kamu Akan Miskin, Mas!

Oleh:  Rahma La  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
8.5
Belum ada penilaian
88Bab
197.7KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Perubahan di hidupku setelah melahirkan. Dingin pada suami sendiri. Namun, luka di hatiku tidak bisa mengering secepat itu. Semuanya akan aku balas padamu, Mas! ***

Lihat lebih banyak
Kamu Akan Miskin, Mas! Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
88 Bab
Perubahan Besar!
"Aduh, perutku sakit banget, Mas. Kayaknya mau melahirkan."   "Halah, tahan dulu sakitnya. Besok aja kalau mau melahirkan. Hari ini aku sibuk," katanya sambil mengibaskan tangan.   Aku yang memegangi tangannya langsung menoleh tidak percaya. Benarkah dia barusan mengatakan itu?    Sungguh, tidak aku sangka kalimat itu keluar dari mulut dia. Ah, sangat tidak masuk akal, tapi memang kelakuan dia selalu begitu.    "Tapi, Mas—" Aku memejamkan mata, kemudian menarik napas panjang. Menatap suamiku yang tampak kesal. Dia terlihat tidak suka.    "Kamu itu susah banget dibilangin. Tunda aja acara melahirkan itu."    Aku memegangi perut buncit, menatap miris ke Mas Reno yang pergi dari rumah. Dengan tertatih, aku keluar rumah. Mobil suamiku sudah tidak ada lagi di parkiran.    "Tolong!" teriakku lirih. Tidak ada siapapun ya
Baca selengkapnya
Perlahan Tapi Menyakitkan!
"Kamu itu hilang dua hari. Gak usah pulang sekalian, kayak gak punya rumah."   Mas Reno membalikkan tubuh. Wajahnya hendak marah, tapi dia langsung terdiam melihatku menggendong bayi. Di belakangku, ada Mama dan Papa.    "Loh, bayi kita udah lahir? Ya ampun, kamu kenapa gak bilang sama aku?" Mas Reno langsung memasang wajah ceria, dia hanya pencitraan, itu saja karena ada Mama dan Papa.    Aku menggelengkan kepala, kemudian menatap tajam ke arahnya.    "Gak nanya," jawabku ketus.    Aku melewatinya begitu saja, meletakkan tas di atas sofa. Wajah Mas Reno tampak memerah tadi. Ah, aku tidak peduli sama sekali.    Mama dan Papa mengusap kepalaku. Kemudian pamit. Kemarin, kedua orang tuaku sempat bertanya kemana Mas Reno, tapi tidak aku jawab. Mereka tidak perlu tahu di mana Mas Reno.    Atau semua rencanaku bera
Baca selengkapnya
Misi Satu Selesai
"Nina, aku minta uang."   Pandanganku teralih ke Mas Reno. Dia menatapku berharap. Namun terlihat juga tidak peduli. Seolah tidak ingat dia yang harusnya memberikanku uang.   Untuk semua pendapatan, aku yang memegang. Yang menguasai aku. Mas Reno tidak ada apa-apanya kalau itu.     Aku diam sejenak. Kemudian mengangguk-anggukkan kepala. Ini akan menjadi ide yang menarik sekali. Mas Reno pasti tidak akan percaya melihatnya.  Dengan cepat, aku mengeluarkan dompet. Mengambil uang pecahan koin. Kemudian memberikannya pada manusia tidak tau diri itu.   "Eh? Kamu bercanda, ya? Kenapa dikasih uang kayak gini? Aduh Nina, aku serius. Lagi butuh banget. Mama sama Rini lagi pengen makan pizza." Mas Reno terlihat kesal sekali melihat uang yang aku berikan. 
Baca selengkapnya
Kejutan Pertama
"Aduh, tadi malam kamu kasih apaan tehnya, Nina? Perut Mama masih sakit sampai sekarang?"   Aku hanya menoleh, kemudian menggelengkan kepala. Memilih mengabaikan mertuaku.    "Nin! Pakaian Mas mana? Kok gak kamu siapin, sih?"    Teriakan Mas Reno sampai luar kamar. Lagi-lagi aku mengabaikannya, memilih untuk bermain dengan Raja.    Ah, aku tidak sabar nanti setelah Mas Reno pulang. Ada kejutan untuknya di butikku.    Mas Reno memang bekerja di butikku. Selama ini, dia mengurus keuangan, tapi aku selalu meneliti laporan keuangan di butik. Kadang, ada yang terselip. Entah sengaja atau tidak.   Memang begitu, selalu ada kecurangan kalau Mas Reno yang bekerja. Mas Reno juga ikut gajian kalau akhir bulan, tapi selalu habis di hari yang sama. Sepertinya untuk keluarganya yang tidak tahu malu itu.    Aku sama sekali tida
Baca selengkapnya
Bayar Saja Sendiri!
"Nin, parah banget kamu jadi istri. Suami sendiri dikeluarin dari pekerjaannya."    "Terus?" tanyaku pelan.     "Ya ampun, kamu kayaknya beneran kemasukan, Nin. Dari habis melahirkan kayak gini. Lama-lama pusing lihat kamu, Nin."    "Kenapa, sih?"     Mama Mas Reno mulai ikut campur lagi. Aku meliriknya sekilas, kemudian mengalihkan pandangan. Tidak peduli.     "Posisi Reno sebagai keuangan di butik Nina diganti sama orang lain, Ma. Pas Reno protes, karena nama Reno jelas-jelas harusnya masih tertera sebagai bagian dari tim, justru gak ada lagi. Keganti sama orang itu."    Wow. Anak yang benar-benar manja, mengadu
Baca selengkapnya
Manusia Tak Tau Diri
"Kamu apa-apaan, sih, Nina? Sampai malam kita nungguin transferan dari kamu. Gak dikirim juga uangnya."Aku menoleh. Menatap Mas Reno yang marah-marah. "Malu-maluiin." Mama meletakkan tas sembarang tempat. "Aduh, tadi ada temanku, apa kata mereka liat tadi gak bisa bayar makanan." Rini ikut bergumam. Wajah mereka terlihat menanggung malu. Sambil menyapu, aku diam-diam tersenyum. Memangnya enak makan tanpa bisa bayar."Jangan makan di restoran kalau gak bisa bayar," gumamku. "Kamu tadi katanya mau transfer. Kamu gimana, sih, Nin? Aku capek lama-lama kayak gitu. Pusing." Mas Reno mengacak rambut. Dia ikut duduk di sebelah Mamanya. Ah, bisa dibayangkan wajah bingung mereka tadi. Diam-diam, aku tersenyum. Sok-sokan makan di restoran mahal, tapi gak bisa bayar. Maunya enak, tapi gak mau usaha. Mau pakai uangku? Maaf saja, tidak akan lagi. Sudah cukup yang dulu. Aku
Baca selengkapnya
Partner?
"Mau minta makan, minta uang. Minta semuanya." Pria tanpa tahu malu itu langsung masuk begitu saja. Aku menggeram pelan. Benar-benar tidak punya urat malu. "Kemana semua uang yang kamu ambil dari dompet Mbak, hah?! Habis?" Ya ampun, hidupku benar-benar dipenuhi oleh orang pencari masalah, juga penghabis uang. Dia adalah Kafka. Adik angkatku yang sejak dulu kerjaannya hanya menghabiskan uang saja. Dia baru saja pergi satu bulan yang lalu. Katanya tidak betah di sini. "Aw. Ada benalu rupanya." Langkah Kafka terhenti di dekat meja makan. Tidak sadar diri kalau dia sendiri benalu. Aku mengusap wajah. Kalau mereka disatukan, semakin kacau dunia. "Aku ke kamar dulu." Kafka melewatiku begitu saja. "Kenapa adek kamu sampai pulang, sih?" tanya Mas Reno kesal. "Mana kutahu." Aku mengangkat bahu, memilih untuk pergi ke kamar.
Baca selengkapnya
Pencuri Gelang
"Serius? Kamu gak bohongin Mbak kan? Mbak gak suka kalau kamu bohong, ya." "Serius, Mbak. Kafka janji, deh." Mataku menyipit. Bagaimana caranya agar Kafka bisa dipercaya? "Kalau buat surat perjanjian, kamu tanda tangan mau gak?" Kafka diam sejenak. Beberapa detik, dia menganggukkan kepala. Seolah sedang menantangku.  "Oke. Siapa takut. Yang paling penting, aku udah janji bakalan bantuin Mbak." Ya. Terserah dia sajalah. Aku masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Kafka, membawa berkas yang tadi diberikan orang kepercayaanku masuk ke dalam.  "Berkas apaan itu, Nina?" Langkahku terhenti mendengar perkataan mertuaku. Untung saja bukan Mas Reno. Aku sudah mempunyai tempat penyimpanan rahasia.  "Nina? Jangan jadi patung." Mama tampak gemas menatapku.  "Bukan urusan Ma
Baca selengkapnya
Menjual Rumah
"Nyebelin banget. Untung gak sampai dipanggilin satpam." Aku menoleh. Keluarga Mas Reno sudah masuk ke dalam rumah. Mereka baru kembali dari acara pesta itu. Entah pesta apa. Sepertinya berakhir memalukan.  "Aku pergi dulu." Kami menoleh ke Mas Reno yang beranjak. Mataku menyipit, dia mau kemana? Padahal, ini sudah beranjak malam.  "Mama ikut." "Rini juga ikutan." Aku hanya melirik mereka sekilas. Paling juga jalan-jalan. Terserah mereka saja. Kafka datang, dia membawa makanan, kemudian meletakkan ke atas meja.  "Mbak, apa yang buat Mbak bertahan sama si Reno itu? Ditambah keluarganya lagi. Ih, kalau aku gak betah." "Harta." Aku menjawab pendek.  Kafka mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia seperti mengerti saja.  "Rumahnya keluargany
Baca selengkapnya
Tanda Tangan Berkas
"Kamu jual rumah itu, Nin?"  Suara Mas Reno terdengar menggema di ruangan. Aku mengangguk singkat, padahal baru saja sampai di rumah.Sudah disambut saja dengan kemarahan mereka. "Menantu kurang ajar. Maksud kamu jual rumah itu apa, hah?! Mau nunjukin kalau kamu yang punya?" "Nutupin biaya lahiran." Aku melirik Mas Reno. "Gak bisa bayar, kan?" Mendengar itu, mereka langsung terdiam. Aku mengangkat salah satu sudut bibir.  "Tapi gak jual rumah itu juga, Nina. Terus Mama sama Rini mau tinggal di mana?" "Rumah kecil." "Tega. Parah banget. Udahlah, kamu itu harusnya gak sama si Nina lagi. Mama pusing lihat kamu sama dia." Terlihat wajah Mas Reno tertekuk. Aku melirik Kafka yang mengacungkan kedua jempolnya. Dia juga iku
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status