Cundhamani (Panah Api)

Cundhamani (Panah Api)

Oleh:  A.R. Ubaidillah  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Belum ada penilaian
228Bab
78.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Arya Nandika, seorang pemuda yang dipaksa ikut berperang di bawah panji Astagina, kerajaan dalam kekuasaan Prabu Ranajaya. Ia begitu dendam dengan Patih Waradhana yang juga menculik ayahnya, Sanggageni empat tahun silam untuk berperang. Sampai saat ini ayahnya itu tak pernah kembali. Arya Nandika tak menyadari kemampuan yang ia miliki buah pelatihan berburu dari sang paman dan darah api yang mengalir dalam tubuhnya. Kemampuannya terendus oleh Ki Bayanaka, kakak seperguruan ayahnya yang menjadi pelatih prajurit Astagina. Melalui tipu muslihatnya, Patih Waradhana berhasil membuat Arya Nandika yang telah menguasai Sasra Sayaka-Cundhamani untuk berperang menghadapi pasukan Baka Nirdaya pimpinan Sanggageni dengan ajian Dasa Daraka andalannya. Apakah Arya Nandika akan saling berhadapan dengan ayahnya sendiri? Akan kah muslihat Patih Waradhana akan terbongkar?

Lihat lebih banyak
Cundhamani (Panah Api) Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
228 Bab
1. Calon Prajurit
“Arya!” pekik Gantari. Ia lemparkan bakul dari bambu berisi pakaian yang baru saja dicuci di sungai begitu saja. Perempuan itu tergopoh-gopoh mencari keberadaan putranya. “Arya! Dimana kau, Nak?” jeritnya. Arya Nandika yang tengah menempa besi di samping rumahnya terperanjat. Ia lemparkan lempeng besi yang akan ia jadikan pedang itu ke bejana air hingga mengepulkan asap putih pekat dengan suara desis yang kuat. Pemuda 17 tahun berlari mencari sumber suara ibundanya dengan godam masih dalam genggaman. “Ada apa, Ibu?” tanya Arya setelah mendapati Gantari tengah berlari ke arahnya. Napas perempuan 37 tahun itu terengah-engah. Sorot mata penuh kekhawatiran membuat Arya Nandika larut dalam emosi yang sama. “Cepat sembunyi!” seru Gantari mendorong tubuh putranya untuk menjauh. “Prajurit Astagina mencari pemuda dan laki-laki untuk dibawa berperang, cepat sembunyi!” pekik Gantari. “Apa? Tak puas kah mereka mengambil Ayahanda!” geram Arya Nandika. Bahasa tubuhnya menolak perintah ibundanya
Baca selengkapnya
2. Uji Penanda
Gantari hanya bisa menitikkan air mata memandang kepergian putranya. Bisa jadi ini kali terakhir ia melihat Arya Nandika. Putranya akan bernasib sama dengan sang ayahanda. Pergi berperang dan tak pernah kembali. Apa lagi Arya Nandika tak memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni. “Jangan kau melawan, Dewi. Atau akan kulaporkan keberadaanmu di sini pada Gusti Prabu,” ancam prajurit itu. “Siapa kau sebenarnya, Prajurit? Mengapa kau bisa tahu jati diriku?” tanya Gantari masih penuh dengan kewaspadaan. Bibirnya melenguh menahan perih di lehernya. “Hanya keluarga istana yang menguasai Suji Pati. Dan setelah Prabu Ranajaya naik tahta, tak ada satu pun perempuan istana yang menguasai tusukan kematian itu,” terang sang prajurit. Prajurit itu lalu mencabut tusuk konde milik Gantari untuk berjaga-jaga. Meski ia sudah mengancam dan melukai Gantari, prajurit itu masih menaruh hormat yang tinggi padanya. Setelah mengamankan tusuk konde berwarna keemasan itu, pedang kembali ia sarungkan. “Ampun, Dew
Baca selengkapnya
3. Serangan Penuh Dendam
Orang-orang yang terkena cairan penanda itu mulanya takut. Namun tak ada yang terjadi saat cairan hitam itu mengenai kulit mereka. Hanya saja bekas cairan itu tak bisa hilang meski sudah beberapa kali diseka dengan kuat. “Tak perlu takut, cairan itu hanya tinta. Bagi yang tidak terkena silahkan berdiri di sebelah kanan saya. Sisanya di kiri!” seru Ki Bayanaka. Lebih dari setengah pemuda dari dua desa berkumpul di sisi kiri Ki Bayanaka. Semuanya tampak sebaya dengan Arya Nandika, beberapa bahkan lebih muda. Mereka masih menanti dengan terus mencoba menghapus tanda hitam di bagian tubuh mereka. “Apakah Ayahanda dulu kena cairan penanda ini sama sepertiku?” tanya Arya dalam hati. Para pemuda yang tak terkena cairan penanda meninggalkan tempat itu dipandu seorang prajurit. Ki Bayanaka mendekat ke arah pemuda di sebelah kirinya didampingi Jenar. Gadis itu tampak begitu gagah sekaligus anggun dengan busur berukir menggantung di punggungnya. “Anak-anak muda, mulai hari ini aku lah guru k
Baca selengkapnya
4. Pemanah Ulung
“Kurang ajar kau, Bocah! Beraninya kau menyerang Patih Astagina!” hardik Patih Waradhana marah. Ia lemparkan pedang bermata duanya yang sebagian sudah menjadi abu. Dengan sekali kuda-kuda, Patih Waradhana melompat di udara dan mendaratkan kaki berisi tenaga dalam di dada Arya Nandika. Pemuda itu terhempas dan terseret beberapa tombak ke belakang. Tubuhnya berhenti setelah terhempas di pohon randu yang besar. Kapuk berguguran terkena hempasan tubuh Arya Nandika. Beriring dengan mulut pemuda itu yang menyemburkan darah segar. Arya Nandika tak sadarkan diri. Dadanya hangus seukuran tapak kaki Patih Waradhana. Panglima perang Astagina itu tak puas. Ia melompat lagi mendekati Arya Nandika dan bersiap memberikan pukulan pamungkas. Namun Ki Bayanaka mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Patih Waradhana. “Ampun, Gusti. Sudah cukup, dia sudah tak berdaya,” pinta Ki Bayanaka. “Lepaskan, Bayanaka! Biar aku habisi bocah ingusan ini!” bentak Patih Waradhana. Ia meronta, namun tenaga d
Baca selengkapnya
5. Orang Terpilih
“Jenar!” pekik Ki Bayanaka. “Kemana perginya luka di dada anak ini?” “Hah!” Jenar dan Ki Bayanaka saling tatap. Luka yang tadi masih basah dan membiru di tepiannya kini telah hilang, sembuh seperti tak pernah terjadi apa-apa. Wajah pemuda itu juga terlihat tenang seperti hanya tertidur. “Apa yang terjadi, Ayahanda?” Mata Jenar terbelalak. Ia tak menyangka ada hal yang begitu istimewa dari pemuda ini. “Ayah rasa anak ini punya keistimewaan. Tapi harus dipastikannya terlebih dahulu,” ucap Ki Bayanaka semakin membuat rasa penasaran di hati Jenar tumbuh subur. Ki Bayanaka meletakkan mangkuk berisi ramuan di sisi Arya Nandika. Ia raih pergelangan tangan pemuda itu. Sejenak ia memejamkan mata merasakan denyut nadi. Tak puas, pria berambut putih itu menyentuh nadi utama Arya di area leher dengan jarinya. “Bagaimana, Ayahanda?” tanya Jenar penasaran. Ki Bayanaka tak menjawab. Ia hanya mengangkat telapak tangannya, kode pada Jenar untuk bersabar. Pria itu lalu menempelkan telinganya di d
Baca selengkapnya
6. Pesan Dari Dewi Gantari
Rumah ini terasa begitu sepi tanpa putranya yang terlalu percaya diri itu. Andai Arya menurut padanya, mungkin mereka berdua masih berkumpul. Sepeninggal Sanggageni karena hal yang sama, Gantari dan Arya Nandika hanya hidup berdua. Arya meneruskan profesi ayahandanya menjadi pandai besi. Sedang ibundanya rutin menjual hasil tenunnya. Nama Sanggageni sendiri merupakan julukan. Penduduk desa mengaitkan kemampuan pria 39 tahun itu menempa besi dengan api hingga tersebutlah nama itu. Sangga yang artinya menyangga, geni berarti api. Namun sebelum ia bermukim di Desa Girijajar, julukan itu sudah melekat padanya. Satu hal yang tidak Arya ketahui, Sanggageni masih hidup dan selalu mengirimkan kabar pada istrinya melalui pedagang yang memesan senjata. Kadang juga lewat Jenaka, seekor elang yang sejak kecil dipelihara Sanggageni dan tidak ada sama sekali lucunya. Sanggageni sengaja melarang Gantari mengatakan kebaradaannya pada Arya, karena pemuda itu pasti tak akan terima. “Nyai Gantari! Ped
Baca selengkapnya
7. Jati Diri
Arya merasa tak nyaman mengenakan pakaian milik Ki Bayanaka. Ia tampak seperti seorang anak yang memaksa memakai baju ayahnya, kebesaran. Ujung lengan dan celana ia gulung beberapa kali. Sabuk kain tebal yang dikenakan juga terasa menutupi tak cuma pinggang, tapi juga perut. “Aku berikan baju itu padamu, Anak Muda. Nanti Jenar akan membelikan baju yang lebih baik untukmu,” ujar Ki Bayanaka seraya meletakkan toyanya. “Terima kasih, Ki,” jawab Arya sambil terus membenahi pakaiannya. “Siapa namamu, Anak Muda? Dan dari mana kau berasal?” tanya Ki Bayanaka. Ia meminta Arya untuk duduk di balai-balai belakang rumah. “Namaku Arya Nandika, Ki. Aku dari Desa Girijajar di sebelah selatan kaki Gunung Payoda,” ucap Arya. Ia masih merasa rikuh dengan perlakuan pria tua ini padanya. Menurut Jenar, karena lukanya parah maka Arya dibawa untuk diobati oleh Ki Bayanaka. Tapi setelah sembuh, ia tak kunjung dikembalikan lagi bersama rekan-rekan sesama calon prajurit. Arya merasa spesial, juga ingin t
Baca selengkapnya
8. Berlatih Memanah
Tempat latihan memanah ini tampak sepi. Arya ditugaskan oleh sang guru yang sore tadi berlutut padanya untuk berlatih memanah bersama Jenar. Raden Arya Nandika, pria itu menyebutnya, gelar yang tak buruk. Tapi terasa tak berguna. Sia-sia jika seorang Raden harus hidup dengan menempa besi setiap hari. Gadis cantik di depan Arya masih saja bersikap dingin. Ia berjalan cepat mendahului Arya dengan angkuhnya. Beruntung Ki Bayanaka segera memberinya pakaian baru yang sesuai. Arya sama sekali tak merasa nyaman dengan pakaian orang tua itu. “Nah, kita sudah sampai.” Jenar menghentikan langkahnya. Mereka kini berada di tengah-tengah tanah lapang dikelilingi pagar bambu. Banyak sekali bantalan target panah berbahan jerami yang terpasang di pagar itu. “Apa harus malam-malam?” keluh Arya sambil menerima busur dari Jenar. Gadis itu tampak malas mendengar keluhan Arya. “Kalau bukan karena Ayahanda yang meminta, aku juga tak sudi berlatih memanah di malam hari. Berdua dengan orang menyebalkan ma
Baca selengkapnya
9. Kawanan Singa
Ki Bayanaka hanya tertawa mendengar cerita Jenar yang begitu kesal padanya. Habis sudah lengannya dicubit dan dipukul oleh putri kesayangannya itu. Ada senggurat malu namun juga suka, tampak dari wajah Jenar yang memerah dan disertai senyum. “Ayahanda mengapa menjerumuskan aku? Mengapa kau suruh aku melatih Arya, sedang Ayahanda tahu dia itu pemanah ulung?” rajuk Jenar. “Bukankah kau sendiri yang bilang dan menemukan tanda-tanda kalau dia pemanah ulung? Tapi mengapa kau justru memamerkan keahlian memanahmu yang tak seberapa itu?” Ki Bayanaka melanjutkan tertawanya. Ia tak menyangka putrinya dan Arya akan akrab secepat ini. Jenar hanya mencebik. Wajahnya memerah menahan malu. Entah sudah berapa kali kedua kaki ia hentakkan ke bumi. Rasa malunya benar-benar tak tertahankan lagi. Rasanya ia tak ingin lagi bertemu dengan Arya, namun itu tak mungkin karena pemuda itu masih tinggal bersamanya dan hari ini mereka berdua akan berlatih memanah di hutan, membidik target bergerak. “Ayolah, Je
Baca selengkapnya
10. Sasra Sayaka
“Jangan berbalik, jangan!” desis Arya. “Kau tak boleh lari sekarang!” Jenar mulai melangkah mundur. Langkah kakinya seirama dengan delapan pasang kaki binatang di depannya. Anak panahnya masih terhunus. Namun akan sulit jika keempat singa itu menyerang bersama-sama. Sampai detik ini ia hanya mengandalkan insting untuk berhadapan dengan kawanan singa ini. Sorot mata singa betina yang tadi melumpuhkan rusa membuat Jenar bergidik. Apa lagi taringnya yang masih basah oleh darah rusa. Ia bisa membayangkan bagaimana rasanya benda sebesar itu mengoyak batang lehernya. “Bagus, kau tidak berbalik. Pertahankan posisi mereka,” gumam Arya. Pemuda itu mencabut anak panah dari tempatnya. Segera ia tarik tali busur yang biasa digunakan untuk prajurit berlatih. Rasanya lebih ringan dari busur pemberian Paman Pranawa. Arya mulai membidik. Seekor singa muda mulai bergerak menjauh dari kawanan. Insting berburu dalam kelompok membuatnya seolah memecah perhatian Jenar. Disusul oleh seekor singa lagi. K
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status