LOGINPernah terpikir oleh kalian akan memiliki keluarga penyihir? Dengan berbagai sihir, praktek sihir dan segala macam petualangan sihir yang mengagumkan. Pasti menyenangkan, bukan? Aku, Dannies, hanya anak biasa yang tinggal di panti asuhan tua. Dua saudariku, Helyna dan Helea, mereka adalah penyihir. Ini adalah ceritaku. Cerita tentang aku dan keluarga penyihirku.
View More"Kedatangan saya kemari karena diutus oleh Haji Muklis. Beliau bermaksud meminang Ibu Sabrina sebagai ... ehm, istri kedua," kata seorang laki-laki berperawakan kurus setelah memperkenalkan diri.
Perempuan yang umurnya belum genap 26 tahun itu kaget bukan main. Baru saja masa iddahnya selesai, orang paling kaya di daerahnya tersebut sudah berani melamar. Konon, istrinya sudah sakit-sakitan dan tak sanggup melaksanakan kewajiban.Sabrina duduk dengan gelisah. Menolak pinangan pengusaha sembako tersebut tentu akan membuatnya dicap sebagai perempuan tak tahu diri. Pak Muklis dikenal sebagai sosok terpandang dan dermawan. Namun, menerimanya begitu saja juga bukanlah keputusan yang bijak. Dia masih sangat mencintai suaminya. Lagipula, dia juga memikirkan perasaan Bu Muklis."Sebelumnya terima kasih atas niatan baik tersebut. Hanya saja ...." Sabrina menggantung ucapannya."Haji Muklis bilang, tidak perlu dijawab sekarang. Saya bisa kembali ke sini tiga hari lagi," sahutnya sambil berdiri, bersiap untuk pamit.Sabrina mengantarkan tamunya sampai ke teras. Sebelum menaiki motornya, laki-laki itu kembali menengok sambil berkata,"Tolong dipertimbangkan baik-baik. Anak Ibu masih kecil, pasti butuh figur seorang ayah. Kehidupan Ibu akan terjamin jika menikah dengannya."Setelah mengucap salam, laki-laki itu menyalakan mesin lalu melajukan motornya meninggalkan pekarangan.Sabrina tidak lekas masuk karena dari kejauhan, dia melihat anaknya mengayuh sepeda dengan riang menuju rumah. Senyumnya terkembang tatkala Alifa, anak berusia empat tahun itu, memarkirkan sepeda di samping pot bunga."Sudah pulang, Nak?""Iya, Ma. Kata Om Baik, mainnya jangan jauh-jauh. Ya udah, deh, aku pulang aja," jawabnya sambil mengeluarkan es krim dari kantong plastik."Om Baik?" Sabrina mengernyit karena tidak tahu siapa laki-laki yang dimaksud anaknya tersebut. "Yang kasih es krim juga Om Baik?"Gadis itu mengangguk dengan mulut yang sudah belepotan oleh cokelat.Aneh sekali. Sejak lahir, Alifa tinggal di lingkungan tersebut. Jika ada laki-laki yang mengenalnya dan tahu rumahnya, bukankah seharusnya Alifa juga tahu siapa namanya? Panggilan 'Om Baik' itu seolah-olah menunjukkan bahwa mereka baru kali ini bertemu."Ma, nanti sore aku boleh ke masjid? Kata Kak Yumna, mulai hari ini ada guru mengaji baru. Semua anak boleh ikutan."Suara Alifa membuyarkan lamunannya. Dia kembali memusatkan perhatian kepada sang buah hati."Boleh, Sayang. Kalau gitu, cepat habiskan es krimnya terus mandi. Nanti Mama antar ke masjid.""Tapi, Ma ...."Alifa terlihat ragu-ragu melanjutkan ucapannya. Sabrina mengerutkan kening dan bertanya apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya tersebut."Kerudung temenku bagus-bagus, Ma. Bajunya juga baru. Aku mau punya kerudung kayak gitu."Sabrina menelan ludah. Jangankan membeli baju dan kerudung baru, untuk makan sehari-hari saja Sabrina harus mengencangkan ikat pinggang. Dia hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja. Ketika sang suami berpulang, perekonomiannya pun terguncang."Begini saja, Sayang. Hari ini kamu pakai baju yang ada dulu. Nanti malam, Mama jahitkan baju dan kerudung. Spesial buat Alifa karena enggak akan ada yang nyamain."Mata gadis itu berbinar. Dia mengangguk senang dan berceloteh sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa baju buatan ibunya.Setelah es krimnya tandas, Alifa bergegas mandi. Sabrina membongkar tumpukan baju di lemari. Namun, yang dia temukan hanya baju-baju lusuh yang berbau apak. Hal itu membuat dadanya sesak.Sabrina kembali teringat ucapan utusan Pak Muklis. Benar, Alifa masih kecil dan butuh figur seorang ayah. Mereka butuh sosok tulang punggung untuk mencukupi kebutuhan. Namun, benarkah caranya jika harus menjadi istri kedua?Sabrina menggeleng keras untuk menghalau pikiran yang tidak-tidak. Mulai saat itu, dia bertekad untuk menjadi ibu yang kuat. Dia tidak mau mengemis dengan menjadi madu hanya karena desakan ekonomi.Alifa memasuki kamar setelah mandi. Sebuah setelan gamis dan kerudung merah muda sudah disiapkan oleh Sabrina. Meski tidak baru, baju itu terlihat cocok dengan kulit putih Alifa.Anak dan ibu itu berangkat ke masjid saat jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Sepanjang perjalanan, Sabrina bukannya tidak tahu kalau dia jadi bahan omongan tetangga. Dia hanya pura-pura cuek meski hatinya terluka.Banyak tetangga yang menggunjing Sabrina sebab dia sangat cantik dan masih muda. Setelah menyandang status janda, beberapa tetangga lelaki terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepadanya. Para ibu takut jika wanita itu nantinya menjadi pelakor yang akan merusak rumah tangga mereka.Suasana masjid sudah cukup ramai saat Alifa dan Sabrina tiba. Beberapa anak perempuan mengerubuti Alifa karena itu adalah hari pertamanya ikut TPA. Sabrina terharu karena di antara orang-orang yang membenci, masih ada anak-anak berhati murni yang bersedia menerima Alifa tanpa membedakan latar belakang keluarga.Riuh rendah anak-anak berganti hening saat terdengar suara seseorang berseru cukup kencang."Anak-anak, kita mulai ngajinya, yuk!"Semuanya menoleh ke arah sumber suara."Lho ... itu, kan, Om-om baik yang kemarin beliin Alifa es krim. Jadi dia guru ngajinya, Ma?" celetuk Alifa.Karena terdorong rasa penasaran, Sabrina menoleh juga. Ibu-ibu lainnya terperangah menatap seorang lelaki tampan berpeci hitam. Dengan cepat, Sabrina membuat kesimpulan bahwa Om Baik adalah guru mengaji yang baru. Namun, siapakah dia sebenarnya?The Coven Ertozagza (Delapan Belas) Pagi hari, penghuni coven menjalani rutinitasnya masing-masing. Meja makan sudah ramai dengan anak-anak yang ingin sarapan mengisi perut mereka. Suasana hangat itu selalu menjadi ciri khas di dalam bangunan coven ini. Mereka berkumpul dalam satu atap. Walau tak sedarah, namun memiliki ikatan bagai keluarga.Mandy, Helyna, dan Cat sudah duduk berkumpul di satu meja. Ada yang kurang. Helea dan Dannies tidak bergabung bersama mereka. Belum. Dua anak itu masih belum kelihatan badang hidungnya.“Si anak cengeng itu mana? Belum bangun?” cetus Mandy. Dia sibuk mengoleskan selai pada rotinya.“Tadi aku lihat Helea masuk ke ruangannya. Mungkin mereka sedang bicara empat mata,” jawab Cat. Dia menyantap sup hangat di hadapannya. Sesekali menawarkan Helyna menu sarapan miliknya.Helyna tak banyak bicara pagi ini. Padahal biasanya dia selalu cerewet di setiap keadaan. Entahlah, ses
The CovenGartaagza (Bagian Tujuh Belas)“Tujuanku memang menghancurkan coven kecil ini, Nona Madicum.” Theo bersiap dengan cambuk listrik di tangannya.Baku hantam pun tak bisa dihindari. Cambuk listrik milik Theo berhasil dihindari dengan Delnessie dengan mulus. Di mata Delnessie, pergerakan cambuk itu lambat, dengan mudah dia menghindarinya.Delnessie melompat mundur. “Kau berurusan dengan penyihir yang salah, Theo.” Delnessie menggerakkan telunjuknya, membentuk sebuah rune.Detik berikutnya, sosok Delnessie lenyap dari pandangan. Theo sudah memahami trik murahan ini. Dia tidak panik, matanya mengamati tiap detail keadaan di sekitarnya. Theo mengeluarkan sesuatu dibalik jubahnya, sebuah botol kecil berisi cairan perak.Botol kecil itu dia pecahkan dengan melemparnya ke tanah. Seketika cairan silver itu mengeluarkan asap yang tak tampak
The CovenInamuagza (Bagian Enam Belas)Pagi itu, Dannies berdiri di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Mata Dannies menyapu keadaan di sekitarnya. Bosan. Dia menunggu salah satu kakaknya yang menjanjikan tontonan menarik. Sebenarnya Dannies ragu. Menarik bagi Mandy, belum tentu manrik bagi dirinya. Contohnya saja seperti kejadian di kuburan waktu itu.“Lama,” keluh Dannies. Dia ingin sekali pergi meninggalkan tempat itu. Tapi Mandy memintanya menunggu sebentar.”Hal apalagi yang mau Kak Mad tunjukkan?”Tiba-tiba saja sesuatu menyentuh bahu Dannies dari belakang, sukses membuatnya meloncat terkejut. Spontan Dannies berbalik badan. Didapatinya Mandy yang cekikikan pelan melihat reaksinya.“Jantungku, Kak. Tidak kasihan sama jantungku?” Dannies menunjuk dada.“Tapi kau masih hidup, tuh,” balas Mandy santai.Dannies menggel
The CovenElidmaagza (Bagian Lima Belas)Helyna menopang dagu dengan kedua tangan. Kedua matanya tak lepas dari sosok Cat yang memberikan penjelasan mengejutkan. Helyna buta situasi. Dia tidak tahu kalau saudarinya sedang menghadapi situasi yang buruk. Kenapa tidak ada satupun yang memberiahukan ini padanya? Helea? Mandy? Bahkan Momo? Lupakan soal Dannies, Helyna tak ingin melibatkan dia dalam hal berbahaya semacam ini.“Informasi terakhir yang kudapatkan, Kak Hena berhasil mendapatkan cawan suci untuk ritual pemanggilan itu,” tambah Cat. Dia menutup buku tua di hadapannya lalu mengembalikannya ke dalam rak perpustakaan.Helyna terdiam untuk berpikir. “Berarti, masih ada dua material lagi. Darah healer dan buku fenriz warior.”“Darah healer yang dibutuhkan dalam ritual itu cukup banyak, Lyn. Minimal tiga individu berdarah healer akan menjadi tumbal.” Cat menjelaskan
The CovenInamu (Bagian Enam)Oh wow, kedatangan Momo ke kabin itu membuat suasana menjadi sedikit ramai. Setelah Momo dan Helea bertatap muka di warung kcil itu, Helea memutuskan untuk mengundang Momo ke rumahnya. Sebenarnya Helea mengundangnya juga berniat untuk mendiskusikan ajak
The CovenElidma (Bagian Lima)Oh, sepertinya keadaan bertambah buruk. Beberapa jam setelah Dannies dan ketiga penyihir itu tiba di kabin tua itu, tiga sosok yang mengejar Helea juga sampai di sana. Untungnya ketiga penyihir itu sempat beristirahat dan memulihkan energi mereka. Dann
The CovenPorta (Bagian Empat)“Paladin? Paladin apa?” Dannies tak merasa bahwa tiga sosok berpakaian putih serta berjubah itu membahayakan walaupun mereka membawa cambuk. Baginya, cambuk sesuatu yang normal untuk dibawa ke manapun. Bisa saja mereka bertiga
The CovenKaliga (Bagian Tiga)Pada episode kali ini aku tak akan banyak berbasa-basi. Aku yakin kalian sudah tidak sabar mengikuti episode kali ini. Sekilas kuingatkan tentang episode lalu. Helyna mendatangi kediaman keluarga Dannies setelah membereskan keluarganya sendiri. Helyna






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore