AKU, KAU, & SELINGKUHANMU

AKU, KAU, & SELINGKUHANMU

Oleh:  Zia Cherry   Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.5
Belum ada penilaian
48Bab
116.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

"Ayo kita bercerai." Miranda tau, harusnya ia mengatakan hal itu sejak dulu. Tidak, seharusnya sejak awal ia tidak pernah menerima uluran tangan pria itu sama sekali.

Lihat lebih banyak
AKU, KAU, & SELINGKUHANMU Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
48 Bab
BAB 1
“Kayaknya kita nggak bisa lanjut lagi. Ayo kita bercerai, Mas.” “Mi! Apa maksud kamu?! Ini pernikahaan! Kamu sudah gila?! Kita bukan anak ABG Yang bisa putus nyambung! Dan kita juga sudah punya Andra! Mana bisa kita cerai begitu aja?” Dia benar. Apa yang sebenarnya kupikirkan? Mengapa aku sesembrono ini? Aku pasti sudah gila. Tapi, harus bagaimana lagi aku menyikapi semua hal yang begitu berbelit di kepalaku? “Ayo kita bicara baik-baik. Ada apa? Kenapa kamu begini? Aku perhatiin sudah seminggu kamu kaya gini. Ada apa, Mi? kasihan Andra kalau kamu begini terus.” Ah, benar juga. Kasihan anakku, bukan aku. Apa yang sebenarnya kuharapkan? “Kenapa? Kamu lagi capek? Kamu butuh me time? Silakan, aku akan jaga Andra. Kamu bisa beristirahat sebanyak yang kamu mau, Mi. Asal jangan bicara yang aneh-aneh lagi.” Dia meminta dengan nada perhatian. Itu membuatku semakin bungkam. Dari mana harus kumulai
Baca selengkapnya
BAB 2
Bagian apa yang paling sulit dalam mengakhiri sebuah hubungan? Itu adalah meyakinkan semua orang bahwa kau akan baik-baik saja, dan kau bisa mengatasinya.  Padahal tentu saja itu mustahil. Kalau semuanya akan teratasi, kau tidak mengakhiri hubungan itu. Ah, iya, satu lagi.        Kau harus mulai terbiasa mengemban tanggung jawab dan julukan yang baru. Dalam kasusku, aku akan menjadi ibu, sekaligus ayah, sekaligus janda beranak. Semudah itu. Padahal untuk mengawali hubunganku dengan pria itu sangat sulit. Kami sama-sama pemalu. Orang-orang yang hanya keluar rumah untuk bekerja dan membeli bahan makanan, itu pun dengan wajah tertunduk. Suatu keajaiban sampai akhirnya kami bertemu, dan menikah. Tapi ternyata, mengakhirinya tidak sesulit itu. Kau hanya perlu berbicara, menunjukan bukti, dan semuanya selesai. “Kapan Papa pulang, Ma?” Anakku berusia 5 tahun. Ia sudah
Baca selengkapnya
BAB 3
 "KAMU MAU BERCERAI?!"Ah, aku lupa.Hal lain yang juga sulit adalah menghadapi penghakiman dari sesama manusia.Matamu, lidahmu, tanganmu, semua akan menjadi saksi.Siang itu aku datang ke rumah Ibu mertuaku. Kunjungan rutin yang selalu kulakukan selama 6 tahun pernikahanku. Dengan atau tanpa pria itu. Toh lama-lama ia terlalu sibuk untuk menemani kami, jadi kami hanya pergi berdua.Apakah dari sana mulanya?Apakah kata-kata sibuk itu hanya sebuah alasan ketika ia meniduri peerempuan lain di tempat asing?“Mi! Jangan asal bicara! Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba mau bercerai?!”Mata itu menudingku, menyalahkanku dengan keras. Aku bersyukur putraku tengah bermain dengan tantenya di halaman belakang, jadi ia tidak mendengar perbincangan keras kami.Atau mungkin ia mendengarnya?“Jangan suka besar-besarkan masalah, Mi! Coba bicara baik-baik sama suamimu. Cari jalan keluarnya. Jangan meme
Baca selengkapnya
BAB 4
“Percayalah, kau tidak akan mendapatkan ujian diluar batas kemampuanmu.”Aku ingin mempercayai kata-kata itu, dan meyakini diriku sendiri bahwa aku bisa melaluinya, meski dengan hati tercabik, dan jiwa yang patah.“Tolong, Mi, tolong jangan bercerai dengan Abrar, Ibu mohon, demi Ibu.”Ibu mertuaku menangis tersedu-sedu di hadapanku, memohon sambil menggenggam jemariku dengan sangat erat. Seakan ia baru saja melakukan kesalahan yang sangat besar.“Ibu minta maaf. Ibu minta maaf atas nama Abrar, Ibu minta maaf karena nggak bisa mendidik dia dengan baik sampai dia begini sama kamu. Ibu minta maaf, Mi. Tapi tolong jangan bercerai. Ibu akan menegur Abrar dan meminta dia meninggalkan perempuan itu. Ibu janji. Tapi tolong jangan bercerai.”Orang yang melihat adegan itu akan beranggapan betapa aku adalah menantu jahat yang dingin. Wanita tua itu hampir bersimpuh di kakiku, tapi tak ada emosi yang tertinggal di w
Baca selengkapnya
BAB 5
“Mi, aku mohon, tolong jangan pergi dariku. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu dan Andra. Tolong pikirkan lagi. Aku khilaf. Aku minta maaf.”Kata-kata itu lagi. Entah sudah berapa kali aku mendengar kata-kata yang sama. Namun, tidak sekalipun kata-kata itu menyentuh hatiku. Mungkin karena aku tau, tidak peduli sebanyak apa ia meminta maaf dan memintaku bertahan, kehidupan kami tidak akan pernah kembali seperti dulu.Sebenarnya apa arti kebahagiaan?Mengapa orang-orang sangat sibuk menunjukkan kebahagiaan mereka? Seakan kebahagiaan mereka tidak berati tanpa pengakuan dari orang lain.Foto yang terunggah,Cerita yang terdengar,Bahkan, senyuman lebar yang terlihat di dalam setiap rekaman memori itu, semua hanya menanti satu hal, yaitu pengakuan.Setiap foto yang diambil selalu memiliki maksud tertentu.Dan percayalah, maksud terbesarnya adalah untuk memamerkan apa yang ia miliki dan tidak kita miliki.Sesederhana
Baca selengkapnya
BAB 6
“Mana anakku?”Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling menyeramkan bagi seorang ibu. Jangan salah paham. Aku bukan wanita pengecut. Namun, ketika pertanyaan itu terlontar, maka artinya jiwaku tak lagi berada di tempatnya.Suara di sebrang sana terdengar gugup. “Andra baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir.”“Kamu culik dia?”“Demi Tuhan, Mi, dia juga anakku! Apa aku nggak boleh jemput dia pulang dari sekolahnya?”Aku bergeming. Mataku masih nanar menatap gedung sekolah putraku yang mulai sunyi. Satu persatu anak dijemput oleh wali mereka masing-masing. Dan putraku tidak ada di antaranya.“Aku nggak akan pernah sakiti anakku sendiri, Mia!” bentak pria itu, padahal aku tidak mengatakan apa pun.Namun, nyatanya, ia sudah melukai putranya.Perselingkuhannya, itu sangat melukai Andra, apakah ia tidak pernah berpikir seperti itu?“Di mana anakku?” t
Baca selengkapnya
BAB 7
 “Andra kecelakaan.”Bagai petir di siang bolong. Aku mendengar kabar itu di hari yang terlalu tenang untuk sebuah musibah. Namun, aku lupa, musibah tidak selalu membutuhkan langit yang mendung untuk mengundangnya datang.Justru, musibah lah yang membuat langit cerah mendadak mendung di langitmu, tapi tidak di langit orang lain.Ketika aku sampai di rumah sakit. Orang-orang sudah berkumpul di tempat itu. Pihak sekolah putraku, pria itu, Ibu mertuaku, bahkan Lina. Seakan mereka sudah siap di sana, bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi.Aku ingin bertanya apa yang terjadi. Bukankah seharusnya itu pertanyaan pertama yang akan kau ajukkan? Tapi kemudian aku mundur. Apa gunanya? Untuk apa aku bertanya tentang yang sudah terjadi? Bukankah itu hanya akan semakin menyakitiku?Seorang perawat keluar tidak lama setelah kedatanganku.“Keluarga Andra,” panggilnya. Aku maju, sebagai ibunya, dan pria itu maju sebagai a
Baca selengkapnya
BAB 8
Operasi pertama tetap dilakukan, meski tanpa jawabanku atas permintaannya. Kalau aku menganggap itu satu-satunya kebaikan yang tersisa darinya, maka aku sudah gila, mereka sudah gila!Ini anaknya! Bagaimana mungkin dia bisa diam saja ketika anaknya hampir mati? Bahkan binatang buas akan tetap melindungi anak mereka.Tamu lain yang mendatangiku diam-diam di rumah sakit adalah guru sekolah Andra. Silvia, gadis muda yang biasanya menyapa murid-murid seriang mentari pagi di pintu masuk sekolah. Kebiasaan yang mereka adaptasi dari sekolah di luar negeri.Ia tampak ketakutan melihatku, seakan aku akan melahapnya dalam sekali suapan.Kemarin ia sudah datang bersama kepala sekolah putraku, mengucapkan bela sungkawa, dan menyerahkan sebuah amplop yang tak pernah kubuka. Mungkin mereka takut aku menuntut, karena kejadian itu terjadi tepat di lingkungan sekolah dan di jam istirahat.Mudah saja, mereka lalai, atau anakku terlalu lincah.Aku menatap guru
Baca selengkapnya
BAB 9
Jika kau berpikir kau adalah wanita yang lemah, tunggulah sampai kau menjadi seorang ibu. Terlebih menjadi ibu dengan ancaman kematian sang anak. Saat itu, kau bahkan bisa menyelami dalamnya lautan jika ingin.Pukul 8 pagi, aku berdiri di ambang pintu ruang rawat inap putraku setelah dokter melakukan kunjungan rutin untuk memeriksa Andra. Ibu datang sesaat sebelum kedatangan dokter. Ia bersamaku ketika dokter menjelaskan keadaan Andra.Mereka mencoba menyambungkan tulang yang patah, mencoba menjahit kembali pembuluh darah yang putus, mencoba memperbaiki jaringan kulit yang koyak, tapi itu akan tetap meninggalkan luka. Kejadian kemarin akan menjadi trauma menakutkan untuk putra kecilku. Dan ibu mana pun tidak akan berbesar hati begitu saja menerima keadaan itu.Andra harus berada di rumah sakit selama beberapa hari lagi, menunggu dokter puas mengobservasinya, atau menunggu tagihan rumah sakit mulai tak bisa tercover asuransi dan uang pria itu lagi.Aku men
Baca selengkapnya
BAB 10
Percayalah. Kalau kau pikir aku adalah wanita yang tegar. Maka kau salah sepenuhnya.Sangat salah.Kebencian itu memang menguatkanku. Namun ketika aku melihat tangis diam-diam putraku di atas bantal rumah sakit setelah semua tamu pergi, hatiku patah berantakan.Tadi, dengan kejinya, pria itu mengatakan bahwa gadis itu akan menjadi ibu baru putraku. Apa dia pikir anaknya b*doh? Atau ia yang terlalu t*lol untuk menyadari perubahan ekspresi putraku?Aku muak.Aku membenci mereka semua.Tapi apapun yang mereka lakukan tidak akan menyakitiku, sampai mereka menyentuh putraku.Andra menutupi wajahnya dengan bantal saat mendengar aku menutup pintu di belakang punggungku. Ia tengah berpura-pura tidur, padahal sesekali bahunya masih terentak karena isak tangis.Aku menarik kursi di samping ranjangnya. Kini hanya tinggal kami berdua. Apakah seharusnya tetap begitu? Apakah kami memang ditakdirkan hanya untuk hidup berdua saja?&ldqu
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status