Bara Dendam Sang Prabu Boko
Ini adalah pengkhianatan terbisunya, sebuah tindakan nyata melawan kemauan sang Tuan, dan satu-satunya tindakan yang akan menyelamatkan harga dirinya dari kebejatan yang perlahan-lahan mencengkeram jiwanya.
Mayang Salewang menggigit bibir, air mata nyaris jatuh, tertahan mati-matian di pelupuk matanya yang memerah. Ia tahu kebenaran mutlak dari setiap kata-kata Ihalu itu, betapa kejinya Sang Mahamenteri memanfaatkan rasa hormat para prajuritnya. Janji yang terikrarkan di medan perang Karasa kini menuntut pengorbanan terbesar dari mereka berdua: pengkhianatan diam-diam terhadap Tuan yang paling ditakuti, seorang Tuan yang sanggup membaca ketakutan dan menggunakan sebagai senjata utama yang paling efektif. Mereka berdua kini bersekutu dalam kebisuan, dipaksa menyembunyikan diri dari
tatapan tajam mata kekuasaan yang selalu mencurigai, menantikan celah untuk melarikan diri dari sangkarnya. Setiap detik terasa memanjang tak berujung, mematikan