Minjae
Setelah sahabatku yang menikah, tinggal jauh jauh dari kampung halaman dan menjadi korban kekerasan rumah tangga, aku dan pacarku langsung menempuh perjalanan sejauh 1.700 kilometer untuk menjemputnya.
Kerja sama kami begitu kompak. Aku yang menghajar pelakunya, sementara pacarku berjaga di depan pintu.
Sahabatku sempat terpaku sejenak, lalu akhirnya ikut menyerang. Saat perjalanan pulang, kami bertiga saling memandangi luka di wajah masing-masing sebelum akhirnya tertawa bersama.
Namun, di tengah tawanya, air matanya tiba-tiba mengalir. “Kalian berdua jangan sampai berantem ya. Soalnya kalau nanti kalian putus, aku harus ikut siapa?”
Adriel yang sedang menyetir mendelik dan berkata, “Kami baik-baik saja, nggak akan putus, oke? Mending urus dirimu sendiri dulu.”
Sejak hari itu, sahabatku resmi tinggal bersamaku. Aku mengurus semua kebutuhannya dan terus menyemangatinya agar bisa memulai hidup yang baru.
Setiap kali, Adriel menjentik dahiku dengan keras. “Naura, jangan-jangan kamu sudah lupa kalau aku ini pacarmu?”
Hingga tiga bulan kemudian, sepulang dari perjalanan dinas, aku mendapati sebuah gantungan manik-manik merah muda di mobil Adriel. Saat kutanya siapa yang memberikannya, dia bersikeras tidak mau mengaku.
Raut wajahku langsung berubah dingin dan berkata, “Kita putus,” lalu, aku menyuruh sahabatku untuk ikut denganku. Namun, aku melihat wajahnya yang pucat pasi justru melangkah ke arah Adriel.