Null
Suamiku, Danu, adalah Ketua Keluarga Mahesa, seorang ketua mafia yang berdiri di puncak kekuasaan Valen.
Dia memiliki satu aturan mutlak yang tak boleh dilanggar.
Setiap kali keluar untuk mengurus urusan keluarga setelah pukul sembilan malam, dia tak akan pernah menjawab telepon apa pun.
Aku memahami bahwa seluruh perhatiannya tercurah pada urusan keluarga. Karena itu, selama lima tahun terakhir, aku selalu berusaha untuk tak mengganggunya.
Sampai tadi malam.
Saat sedang berkendara sendirian melewati dermaga, aku tiba-tiba disergap sekelompok orang bersenjata dari keluarga musuh kami.
Dalam kepanikan, aku menelepon Danu dan memohon agar dia menyelamatkanku.
Telepon itu berdering cukup lama.
Begitu akhirnya tersambung, yang terdengar justru suara dinginnya.
“Nora, kita sudah menikah selama bertahun-tahun. Sebagai Nyonya Keluarga Mahesa, seharusnya kamu masih ingat aturan kita.”
Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.
Malam itu, aku berjuang seorang diri sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil lolos dari hujan peluru.
Aku menghabiskan satu malam di rumah sakit.
Namun, saat pulang keesokan paginya, yang kudapat justru tegurannya.
Dia menyalahkanku karena sudah mengganggunya saat sedang mengurus urusan penting keluarga malam itu. Bahkan, dia menuduhku sembarangan mengirimkan sinyal darurat.
Aku tahu betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya. Karena itu, aku hanya bisa menelan rasa sakit dan kecewa dalam hati.
Namun, ketika suatu kali menggunakan komputer miliknya, tanpa sengaja aku melihat riwayat panggilannya.
Ada satu nomor yang hampir setiap malam menghubunginya.
Waktunya selalu lewat pukul sembilan malam.
Dan itu sudah berlangsung selama lima tahun penuh.
Nomor itu tak asing bagiku.
Itu milik Alesha, tangan kanan Keluarga Mahesa. Perempuan yang selama lima tahun ini diakui seluruh anggota keluarga sebagai orang yang paling pantas berdiri di sisi Danu.
Saat itu, semua rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini kupendam akhirnya meledak.
Setelah menenangkan diri, aku mengambil ponsel dan menemukan undangan pameran seni internasional yang kuterima beberapa hari lalu.
Aku sejenak menatap undangan itu.
Lalu menekan tombol “Terima”.
Tiga hari lagi…
Aku akan benar-benar menghilang dari dunianya.