Fadiyah NK
Seharusnya Arsen terbangun di tengah dentuman peluru yang mengincarnya. Namun, pagi ini sang bos mafia yang paling ditakuti itu justru disambut aroma lavender dan suara napas halus dua anak kecil di sampingnya. Di depannya, seorang wanita cantik dengan piyama tipis yang menggoda tengah sibuk mengeringkan rambut.
"Siapa kalian?" tanya Arsen, suaranya sedingin es. Wanita itu hanya menoleh, memasang wajah datar sebelum berubah menjadi kesal manja.
"Kamu ini... apa tidak ada candaan lain selain itu kepada istrimu sendiri? Sudah 6 tahun menikah kamu masih saja membuatku kesal pagi-pagi. Minimal sapa dulu selamat pagi, bukannya membentak seperti itu." Wanita itu mendendus kesal, lalu berjalan mendekat dengan raut wajah manja yang dipaksakan. "Ah sayang~ tolong jangan bergerak dulu. Arsya dan Anya masih tidur. Kamu tahu sendiri kan betapa sulitnya menidurkan mereka semalam?"
Arsen tertegun. Ia melangkah menuju cermin dan nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Wajah itu kembali muda, bersih tanpa luka, tanpa tato, bahkan tindik di bibirnya pun lenyap. Saat ia masih berusaha mencerna kegilaan ini, sebuah pelukan hangat melingkar di pinggangnya dari belakang. "Kenapa? Kamu mau lanjut ke ronde kedua?" bisik wanita itu dengan nada menggoda.
952