Anonymous
Di sebuah pesta menjelang pernikahan kami, aku tanpa sengaja menemukan sebuah postingan berupa pertanyaan untuk pasangan di internet.
[Kalau bukan aku orangnya, siapa orang yang ingin kamu nikahi?]
Aku tersenyum sambil menunjukkan pertanyaan itu kepada tunanganku, Keanu Adinata.
Dia bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya. "Viona."
Viona Maheswari adalah adik perempuanku.
Sahabatku langsung ikut menimpali. "Jujur saja, Viona memang paling mengerti Keanu. Setiap kali kalian berdua bertengkar, dia yang menemani Keanu ngobrol sampai pagi."
Viona mengulurkan tangannya dan memukul pelan dada Keanu, pura-pura kesal.
"Jaga tunanganmu baik-baik, Kak. Jangan sampai dia terus menerus kangen sama aku."
Seketika, semua orang yang ada di meja makan tertawa.
Ibuku, Marisa Maheswari, ikut terkekeh geli. "Kan cuma bercanda. Lagi pula, Viona tidak pernah mengeluh seperti kamu. Wajar kalau Keanu menyukainya."
Keanu melirik ke arahku. "Cuma bercanda. Masa begitu saja kamu nggak bisa terima?"
Aku tidak menjawab, hanya menunduk, menatap formulir konfirmasi yang baru saja dikirim oleh pihak yang mengurus pernikahan kami.
Gaun pengantin, buket bunga, musik, menu makanan. Semuanya dipilih sesuai selera Viona. Jadi, dari awal sampai akhir, pernikahan ini hanya memiliki satu hal yang benar-benar menjadi milikku.
Namaku yang tertulis sebagai pengantin wanita.
Kalau siapa pun bisa menjadi pengantinnya, lalu buat apa aku menikah?