Jul
Belakangan ini, ada satu program yang lagi tren di internet, yaitu mengobrol dengan diri sendiri di masa depan.
Sebelum ujian masuk perguruan tinggi dimulai, aku hanya sekedar ikut-ikutan mengirim satu pesan,
[Diriku di masa depan, aku dan Eric akhirnya menikah?]
Layar ponselku berkedip sebentar, lalu sebuah balasan dari ‘nomor tak dikenal’ tiba-tiba masuk hanya dalam hitungan detik.
[Menikah, pesta pernikahannya sangat megah.]
Sambil menggenggam erat ponselku, jariku mengetik dengan cepat.
[Lalu? Pendamping pengantinnya Kirana, ‘kan? Dia itu sahabat terbaikku!]
Balasannya tetap sangat cepat, [Iya, dia pendampingnya. Dia bukan hanya sekadar pendamping pengantin, tapi juga istri suamimu di malam pertama.]
Seketika, senyuman di bibirku membeku.
Kemudian, pesan ketiga kembali muncul.
[Sebenarnya, kamu nggak perlu sengaja menurunkan standarmu demi menemaninya. Dia sengaja membuat nilai matematikanya jelek, biar bisa tetap di kota yang sama bersama Kirana yang nilainya paling jelek.]
[Dia mau kamu melepaskan kesempatan masuk universitas terbaik demi dirinya, hanya karena nggak mau Kirana merasa minder gara-gara nilaimu bagus.]
Tiba-tiba, bel tanda masuk ruang ujian berbunyi.
Namun, seluruh tubuhku merinding, tak sanggup bergerak sedikitpun.
Pesan terakhir itu pun memberikan hantaman yang mematikan.
[Kalau nggak percaya, begitu selesai ujian, langsung pergi saja ke hotel di jalan belakang sekolah. Kamu bakal lihat sendiri kenyataannya.]