Suamiku Bukan yang Kukira
Ada bayi menangis di rumah sebelah, disusul suara ibu meninabobokan, kehidupan yang berjalan, seperti biasa, sementara jantungku hidup dalam variasi ketukan yang tidak normal.
“Aku benci ketukan,” gumamku, entah pada siapa. “Dulu ketukan berarti tukang sayur, paket deterjen, teman murid les. Hal-hal kecil yang membuat dunia terasa wajar. Sekarang ketukan… seperti palu eksekusi.”
Arga tidak menyela. Ia seperti memberi tempat pada kalimat itu duduk di antara kami. Di tengah ketakutan, kami masih bisa memberi kursi untuk kata-kata.
Bab Populer