Partner Pemanasan Sang Atlet
ucapnya lembut, “coba kamu pikir lagi. Zea bukan boneka yang bisa kamu simpan rapat-rapat di rumah supaya dia selalu aman. Dia manusia, Nak. Dia punya perasaan, punya keinginan sendiri. Dan soal kondisi tubuhnya ... dia nggak bisa kendaliin sepenuhnya.”
Ia menatap putranya lekat. “Kamu nggak gagal, Zav. Tapi kamu juga nggak bisa terus nanggung semuanya sendirian. Seolah-olah semua yang terjadi sama Zea adalah tanggung jawab kamu.”
Zavian menunduk, rahangnya masih mengeras, tapi kali ini ada sesuatu yang retak di balik ekspresinya.