Ruang Rindu
Anggap saja semua kesibukan ini menjadi satu pintu rejeki atau bahkan satu obat untuk salah satu luka yang belum kering, ehe, sok puitis sekali diriku.
Duduk menikmati pemandangan pagi hari di pos ronda dengan membawa secangkir kopi robusta, menatap langit pagi yang memancarkan sinar kekuningan. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa aku kuliah, berada di lab, mengantri praktek, mengejar dosen, berlarian di koridor rumahsakit untuk mendapat paraf Coach. Aku menggeleng pelan, mungkin memang bukan disana tempat aku menyelesaikan pendidikanku di fakultas kesehatan, dan mungkin memang itu hanya batu loncatan. Aku berjalan kembali ke rumah, sebelum para tetangga keluar rumah dan menanyaiku aneh-aneh.
Hot Chapters