Ada sebuah cerita yang sempat viral di forum online tentang seorang wanita bernama Rina. Awalnya, dia dikenal sebagai istri yang setia, tapi perlahan mulai menjauh dari suaminya karena masalah intim. Suaminya, Ardi, memang memiliki 'kekurangan' di ranjang, dan Rina merasa kebutuhan emosional dan fisiknya tidak terpenuhi. Alih-alih berkomunikasi, dia memilih mencari pelarian dengan rekan kerjanya. Yang menarik, Rina justru merasa bersalah bukan karena perselingkuhannya, tapi karena merasa 'terjebak' dalam pernikahan yang membuatnya frustasi. Cerita ini memicu perdebatan sengit: apakah ketidakpuasan seksual bisa dibenarkan sebagai alasan untuk berselingkuh? Beberapa membela Rina, sementara lainnya menyebutnya egois. Aku pribadi tergelitik melihat bagaimana masalah rumah tangga yang kompleks sering disederhanakan menjadi hitam putih di media sosial.
Dari sisi lain, ada juga kisah Dinda yang justru memilih jalan berbeda. Suaminya mengalami disfungsi ereksi pasca-kecelakaan, tapi mereka berdua memutuskan untuk konseling dan menemukan cara lain untuk menjaga keintiman. Dinda bercerita bagaimana proses itu justru memperkuat ikatan mereka, karena melibatkan vulnerability (keterbukaan) yang dalam. Kedua cerita ini seperti dua sisi mata uang: satu tentang pelarian, satu tentang perjuangan. Aku sering bertanya-tanya, apakah perselingkuhan benar-benar tentang fisik, atau lebih pada kegagalan komunikasi?