Rayuan Maut Para Tetanggaku
Ardi menatapku tidak percaya, tapi setelah aku mendemonstrasikan dengan meremas sebuah kaleng soda hingga menjadi serpihan kecil hanya dengan dua jari, dia langsung pucat dan mengangguk setuju.
"Gila... lu beneran jadi manusia super, Bim."
"Satu lagi, Di. Besok tolong bantu gue beli ponsel baru. Gue harus hubungi Ibu dan Alisa di kampung. Gue kangen banget, tapi gue belum berani pulang ke Bandung langsung. Risikonya terlalu besar buat mereka kalau musuh tahu gue masih hidup."