Rayuan Maut Para Tetanggaku
Kami tidak bisa melihat pemandangan ke bawah, tapi melihat Puncak Pangrango yang gagah di seberang sana terasa luar biasa.
Kami berdua berdiri, saling berpegangan tangan, wajah kami menghadap ke timur. Di balik kabut, golden hour mulai muncul, mewarnai langit dengan jingga dan merah.
Kami berteriak bersama, meluapkan semua kelelahan dan kebanggaan.
“Kita berhasil, Kak Bima! Kita berhasil!” teriak Sabrina, memelukku erat-erat.