Membaca 'A Hill of the Moon' itu seperti menyusuri lorong waktu yang penuh kejutan. Novel ini bercerita tentang sekelompok remaja yang menemukan bukit misterius di pinggiran kota mereka, tempat fenomena aneh terjadi setiap bulan purnama. Uniknya, bukit itu seolah memiliki kesadaran sendiri—memancarkan energi magis yang mengubah persepsi waktu dan ruang. Tokoh utama, seorang gadis pemalu bernama Rina, justru menjadi kunci untuk mengungkap rahasia bukit tersebut. Plotnya berkelok-kelok antara dunia nyata dan fantasi, dengan simbolisme kuat tentang coming-of-age dan menghadapi ketakutan.
Yang bikin betah, penulisnya piawai membangun atmosfer. Adegan-adegan di bawah sinar bulan terasa begitu hidup, sampai pembaca bisa merasakan dinginnya angin malam atau gemerisik daun. Konfliknya juga relatable; dari persahabatan yang retak sampai konflik keluarga, semua terikat rapi dengan elemen supernatural. Endingnya? Nggak cliché—lebih ke bittersweet dengan pesan bahwa terkadang, kita harus melepaskan sesuatu yang ajaib demi tumbuh dewasa.