Antara Cinta dan Luka
Mama tahu apa?
Rian, di kantor Lisa di Sudirman, berdiri di depan meja marmer, lampu neon menciptakan bayang seperti kaca retak. “Lisa, Ardi ajukan gugatan resmi,” katanya, suaranya tegang, mencengkeram laptop Vita. Lisa menatap layar. “Rian, USB ibu Naya lebih kuat, tapi Ardi bilang Ratna setuju kontrak Budi,” katanya, suaranya tajam. “Kita butuh Ratna jelaskan di pengadilan.” Rian mengangguk, jantungnya seperti benang kusut, dilema menjerat: tanya Ratna di RS atau kejar Vita di pelabuhan. “Naya nggak boleh terluka lagi,” gumamnya, mengingat Naya di panggung, suaranya penuh harapan.
Di pelabuhan, Vita melangkah cepat di antara peti kemas, hujan membasahi jaketnya, permukaan logam dingin di