Raina
teriak Galih ke arah Ghina yang saat ini sedang menyuguhkan sepiring kue lupis buat Erfan.
Aku mendengus, memilih mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaan. Percayalah, adu argumen sama Galih butuh waktu yang lama. Belum lagi emosi yang langsung naik, belum lagi pita suara yang nanti akan mendadak serak.
“Jedotin aja kepalanya ke pilar, Gal,” sahut Ghina.
“Jangan ah, nanti amnesia. Gak inget sama gue.” Terdengar jelas suara gelak tawanya yang berdiri tepat di belakangku.
Hot Chapters