Pura-Pura Buta
Syarlinatertutup sudah pintu hatikuteringat saat bersamamuistri menangis karena mertuasetulus hatiku mencintaimu
"Pak Heru? Oh, iya ada. Kalau nggak salah sekitar sebulan yang lalu, dia minta waktu buat ketemu saya. Katanya mau bahas tentang surat kepemilikan butik."
Degh. Butik? Buat apa?
Selain perusahaan besar yang ditinggalkan oleh almarhum ayah, dan saat ini dikelola oleh Mas Heru. Aku sendiri juga memiliki harta pribadi berupa sebuah butik. Butik yang kubangun dengan jerih payah sendiri dan sampai hari ini, karena keadaan mata yang buta, maka semua urusan butik kuserahkan sama asistenku yang bernama Yumi. Memang sih, seharusnya setiap bulan, Yumi harus menyetorkan laporan keuangan dan keadaan butik. Namun entah kenapa, dua bulanan ini, dia tidak pernah menghubungiku dan aku juga lupa untuk menghu