Tetanggaku Luar Biasa
"Iya, aku udah bilang, kalo aku nggak bakat jualan. Tapi, kata Mbak Ajeng, dicoba aja belum, udah bilang nggak bisa. Jadi, aku terpaksa belanja ke Mbak Ajeng."
Kalau tidak menghargai suami dan mertua serta Arif, sudah kusiram air wajah Siska yang menyebalkan itu.
"Betul itu, Bu?" tanya Mas Reyhan.
Aku menghela napas kasar. "Sis, saya, ngomong gitu, bukan cuma ke kamu aja. Ke semua yang baru belajar jualan, saya pasti ngomong gitu. Apa itu paksaan? Kalo emang kamu, nggak bisa, nggak mau, ya tinggal bilang nggak mau. Apa saya memaksa kamu belanja dalam jumlah banyak? Nggak, kan?"