Dekapan Hangat Sang Mantan
"Dan aku tahu, beberapa luka tidak bisa sembuh hanya dengan waktu. Ada luka yang perlu diobati dengan cara yang lebih dalam—dengan keberanian untuk melihatnya, mengakuinya, dan melepaskannya. Kamu siap untuk itu?"
Ghea menggigit bibirnya, merasakan campuran antara ketakutan dan harapan yang bertarung di dadanya. Tangannya menggenggam cangkir teh lebih erat. "Aku... aku tidak tahu, Dok. Aku sudah mencoba melupakannya. Aku sudah mencoba menguburnya dalam-dalam. Tapi setiap kali aku memejamkan mata, aku masih mendengar tangisannya. Aku masih melihat bayangannya. Aku masih merasa bersalah." Suarara pecah di akhir kalimat. "Aku tidak tahu bagaimana cara berdamai dengan semua itu."