Pembalasan Sang Dokter Jenius
Cat minyak di atasnya seolah mendidih, mengeluarkan suara desisan pelan seperti air yang diteteskan di atas wajan panas.
Di tengah kegelapan itu, Joko melihatnya. Cat di bagian wajah wanita itu mulai menghitam, meleleh, lalu meregang. Kanvas itu melentur ke atas, seolah ada sesuatu dari dalam yang mendorongnya dengan paksa. Lalu, dari tengah kegelapan cat itu, mencakarlah sebuah wujud. Lima jari kurus yang panjang dan terbuat dari bayangan murni merobek permukaan dua dimensi itu, mencakar-cakar udara di dunia nyata.
“Anjir…” desisnya, sebuah umpatan keterkejutan murni yang keluar tanpa ia sadari, lebih mirip hembusan napas yang gemetar daripada sebuah kata.