Gemetar tapi penuh harap, itulah perasaan yang ingin kusalurkan ke setiap kalimat di teks ceramah pernikahan.
Aku mulai dengan mengumpulkan tiga momen konkret: bagaimana mereka bertemu, satu kejadian lucu yang bikin semua orang tertawa, dan satu saat hening yang terasa seperti janji. Dari situ aku menulis versi kasar tanpa mikir bagus atau puitis—cuma cerita polos. Setelahnya aku pilih kata yang paling jujur dan hapus semua yang berlebihan. Inti yang menyentuh biasanya sederhana: rasa syukur, harapan, dan doa untuk pasangan.
Praktik itu penting. Aku baca keras-keras sambil merekam, dengarkan bagian yang bikin suaraku pecah atau tersendat, dan potong kalau terlalu panjang. Sisipkan jeda setelah kalimat emosional supaya pendengar sempat meresapi. Akhiri dengan kalimat yang menatap pasangan, bukan hanya tamu—itu yang membuat suasana jadi intim. Setelah menulis, aku selalu menutup dengan doa singkat atau harapan konkret; itu memberi akhir yang hangat dan penuh makna. Aku selalu pulang dari momen seperti itu dengan perasaan lega dan percaya kalau kejujuran kecil bisa bikin banyak orang ikut tersentuh.