LOGINSafa terpaksa dinikahkan bersama pria lain sebagai calon pengganti pengantin pria di hari pernikahannya, terlebih pria yang menjadi suaminya adalah sang mantan kekasih. Azril, pria yang pernah menorehkan luka di hatinya. Berat bagi Safa menjalankan hingga tercetus kata perpisahan karena dirinya masih memikirkan Faqih yang menghilang di hari pernikahan. Namun, Azril tidak menyerah untuk mempertahankan pernikahannya. Ia terus meyakinkan hati Safa tentang rasa cintanya. Hingga berjalannya waktu, Safa mulai membuka hati. Sayangnya, cinta Safa diuji dengan kehadiran Faqih di saat sudah hidup baru bersama Azril. Akankah Safa mempertahankan pernikahannya bersama Azril? Atau ia memilih Faqih sebagai suami yang diimpikan?”
View More"Ini kegilaan."
Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik-detik terakhir sebelum mati!".
Di seberang meja, Bambang sang pengacara senior keluarga hanya bergeming. Wajahnya sedatar beton, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan nyonya besar itu.
"Menikahkan Ratih..." Dian menggumamkan nama putri semata wayangnya dengan rahang mengeras. Dalam hatinya, rasa jijik bergejolak hebat. Bagaimana mungkin putrinya yang mengalir darah bangsawan Rajah Wangi murni harus disandingkan dengan sampah? "Dengan OB itu?! Seorang cleaning service rendahan yang bahkan statusnya masih bergelung di sel penahanan kantor kita sendiri?!".
Di sudut ruangan, Adiwangsa duduk kaku. Sebagai menantu yang selama dua dekade selalu piawai menjilat dan membaca arah angin di keluarga ini, kini ia tersudut oleh badai yang tak ia lihat kedatangannya . Keringat dingin merembes di kerahnya. Jika pernikahan ini terjadi, statusnya di mata sosial akan hancur lebur.
Jauh dari ketegangan menjijikkan itu, Ratih mematung menghadap jendela, membelakangi keluarganya. Tatapannya sedingin es, lurus menembus kaca, mengunci hamparan taman yang dipangkas rapi. Dalam diamnya, pikiran Ratih berputar cepat bak superkomputer. Ia belum beringsut sesentimeter pun sejak Bambang selesai membacakan wasiat sinting tersebut.
"Namanya Kukuh," kata Bambang akhirnya memecah senyap, membalik satu halaman dokumen wasiat dengan tenang. "Delapan belas tahun. Berasal dari sebuah desa miskin di Jawa Tengah. Terdaftar sebagai cleaning service di kantor pusat sejak empat belas bulan lalu.".
"Aku tahu persis siapa kecoa itu!" potong Dian tajam, matanya menyala. "Semua orang tahu. Dia bocah yang selamat dari insiden penembakan di lift setahun lalu!".
"Benar," jawab Bambang.
"Yang keluar hidup-hidup padahal tertembak tembus!".
"Benar.".
"Dan yang kemudian dijebloskan ke kerja paksa oleh tim keamanan kita sendiri karena dicurigai sebagai mata-mata!" Dian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan napas memburu . Ia menatap Bambang seakan ingin menelan pria itu hidup-hidup. "Lalu sekarang... Ayah ingin menjadikannya menantu di keluarga Aji Saka?!".
Bambang membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan mekanis. "Mendiang Tuan Cokro secara spesifik menyebut ini sebagai hutang nyawa yang harus dibayar lunas.".
"Hutang nyawa..." Dian tertawa hambar. Suaranya memancarkan keterkejutan seorang pemain catur yang baru sadar papannya telah ditendang terbalik. "Jadi selama setahun ini Ayah diam saja, membiarkan OB itu jadi tahanan, lalu melempar bom ini tepat setelah dia masuk liang lahat?!".
Adiwangsa berdeham, tak tahan lagi melihat kerajaan bisnisnya terancam. Ia mencondongkan tubuhnya. "Pasti ada celah hukum, Pak Bambang? Apa pun itu. Kita bisa menyogok hakim, memalsukan tanda tangan...".
Bambang menggeser halaman terakhir dokumen itu ke tengah meja. Tepat di bawah cahaya lampu kristal. "Jika pernikahan tidak dilangsungkan dalam waktu tiga puluh hari sejak hari ini, seluruh aset perusahaan, properti, dan saham pengendali mutlak jatuh ke tangan pemuda bernama Kukuh itu." .
Bambang menatap mata Adiwangsa dan Dian bergantian. "Dan jika pernikahan ini dipaksakan lalu berujung cerai dari pihak keluarga Aji Saka... konsekuensi yang sama berlaku.".
Adiwangsa memejamkan mata kuat-kuat, seolah baru saja ditampar. "Berapa total valuasinya?".
"Cukup untuk menghidupi tujuh keturunan Aji Saka tanpa perlu bekerja," jawab Bambang datar. "Dan cukup untuk meluluhlantakkan kalian dalam seminggu jika triliunan rupiah itu jatuh ke tangan yang salah.".
Ruangan itu mendadak senyap. Hening yang mematikan. Bahkan napas pun terasa berat ditarik. Menyerahkan seluruh kerajaan Aji Saka pada seorang OB? Itu lebih buruk daripada kiamat!
Ratih akhirnya berbalik.
Wajahnya yang mewarisi garis aristokrat keluarga ini tetap tenang, nyaris tak terbaca. Namun, di balik mata kelabunya yang angkuh, sebuah keputusan kejam baru saja dikunci. Menikah dengan anjing liar jauh lebih baik daripada kehilangan tahta, batin Ratih dingin.
"Lakukan," ucapnya memecah kesunyian.
Dian tersentak, seolah telinganya mengkhianatinya. "Ratih ".
"Lakukan wasiat itu." Ratih melangkah elegan mendekati meja, menarik dokumen yang sedari tadi dihindari keluarganya seolah itu barang bernajis. Matanya menyapu deretan klausa di sana. "Tapi aku punya syarat.".
"Pernikahan ini sangat privat. Tidak ada rilis publik, tidak ada resepsi, tidak ada satu pun dokumentasi." Ratih melempar dokumen itu kembali ke meja dengan jijik . "Di luar pagar rumah ini, statusku tetap lajang. Dan selama di dalam gedung perusahaan...".
Ia menjeda kalimatnya. Sorot matanya menajam, membayangkan pemuda rendahan itu harus sadar diri akan posisinya.
"Anak itu tetap bekerja seperti biasa. Pakai seragam birunya yang kumal, pakai kartu pegawainya, dan lapor ke atasannya. Satu-satunya yang berubah adalah status tahanannya dicabut hari ini juga.".
Dian baru saja membuka mulut untuk memprotes, tidak terima putrinya harus terikat dengan gembel.
"Ibu tidak punya opsi lain." Ratih memotong telak, suaranya final dan berkuasa. "Kita tidak punya pilihan. Jadi berhenti membuang waktu bersikap seolah kita punya.".
Safa tersenyum senang melihat tingkah Zahra yang semakin hari semakin pintar. Terlihat dia sudah sangat aktif dan mudah diberitahu. Kini, ia sedang membantu dirinya yang menyiram tanaman.“Nda, duduk saja,” kata Ara.“Memangnya Zahra bisa?” tanya Safa tersenyum.Zahra mengangguk, lalu mengambil selang air dari tangan sang bunda dan menyiraminya ke tanaman. Seketika Safa terharu dengan sikap dewasa Zahra.“Ma syaa Allah, pintarnya anak Bunda. Ya sudah sekarang kita mandi, yuk.” Mengingat waktu sudah sore dan Zahra harus sudah rapi sebelum abinya datang.Zahra pun mengangguk dan berlari kencang. Sedangkan Safa menggeleng, lalu mengejarnya perlahan. Ia tak sanggup lagi untuk berlari seperti Zahra.“Jangan main air, Nak,” ujar Safa saat melihat putrinya sudah berada di kamar mandi. Dia sudah bisa mandi sendiri sehin
Selesai acara, wajah sumringah dan bahagia terpancar dalam diri Safa. Ia memang selalu senang seakan mendapat amunisi dalam tubuhnya.“Fin, bagaimana kesan pertamamu?” tanya Safa melihat wajah Finna yang murung.Finna menggeleng, tak bisa berkata lagi. Apa yang didengar cukup meresap dalam hati dan seolah tertampar membawa dirinya untuk menjadi lebih baik.“Terima kasih, Saf, sudah mengajakku ke sini,” ujar Finna sendu.“Semua atas izin Allah, Fin,” kata Safa. Ia senang jika Finna pun senang, penantian dan perubahannya tak sia-sia berarti.Mereka pun pulang dan Safa kembali mengantarkan Finna ke rumah. Setelah itu langsung bergegas karena Azril sudah menunggunya di rumah.“Mba mampir dulu ke dalam, istirahat, kita makan,” kata Safa menawarkan.“Nggak usah, Mba, saya langsung pulang saja,” balas Vio. Ia tidak enak dan ingin langsung istirahat di rumah saja.“Masuk dulu saja, Mba, jarang-jarang Safa menawarkan.”Suara itu muncul dari ambang pintu siapa lagi jika bukan Azril. Safa pun la
Pagi hari, Azril merengek pada Safa karena dirinya yang terabaikan. Biasanya baju dan perlengkapan sudah berada di atas kasur, tetapi kini tidak ada.“Sayang, bajuku mana?”“Iya, Mas, sebentar.” Safa menggeleng karena Zahra pun tidak ingin ditinggal.Drama setiap pagi memang selalu begitu. Anak dan suami memperdebatkan perhatiannya, Zahra pun selalu bisa mengambil simpati Safa yang membuat Azril cemburu.“Anak Bunda sudah cantik, ma syaa Allah.” Safa mengecup rambut Zahra yang wangi, lalu memberikan bedak yang sudah tertutup sebagai mainannya.Sedangkan Safa bangkit untuk mengambil baju sang suami dan Zahra langsung menangis mengejarnya.“Zahra, sini, Nak.” Azril memanggilnya, tetapi tidak digubris oleh Zahra.Anak itu justru menarik baju ibunya dan Azril pun mendekat untuk menggendongnya. Namun, bukannya anteng, anak itu malah mengamuk.“Anak salehah ko ambekan sih. Bentar, Sayang, bundanya lagi ambil baju dulu buat Abi,” kata Azril memberitahu.Zahra tetap menangis dan Safa yang sud
Mau tidak mau, Safa hanya pasrah dan menurut. Demi kebahagiaan suami tercinta, ia menyuapi Azril yang makan dengan lahap.Bayi besar yang manjanya melebihi Zahra, selalu merasa iri jika waktunya habis sama Zahra. Namun, Safa paham dan mengerti selagi permintaan Azril masih wajar.“Kamu sudah tahu kabar dari Ning Balqis belum?” tanya Azril.Safa menggeleng. memangnya ada kabar apa. Ia tidak mendapat kabar apa pun darinya. Mengingat sibuknya Safa sebagai ibu rumah tangga yang menyambi menulis.“Beliau akan mengadakan tasyakuran empat bulan dan aku diberitahu sama Amih tadi pagi. Kita diminta untuk pulang, acaranya minggu depan.”“Ma syaa Allah, Alhamdulillah. Penantian Mba Aqis, Mas. Aku malah nggak tahu karena jarang komunikasi juga sama Mba Aqis.” Safa ikut senang dan haru mendengarnya.Memiliki kesibukan menjadi seorang is
Keesokan harinya, Safa dan Azril sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Beruntungnya sekarang hari libur sehingga ada waktu untuk beristirahat setelah perjalanan kemarin.“Sayang, maksud dari Radit semalam itu siapa memang?” tanya Azril penasaran.Ia belum sempat bertanya karena rasa lelah yang meny
Suasana pagi itu menjadi haru karena percakapan Marlan yang tiba-tiba. Mungkin karena rindu yang terpendam sehingga melihat Safa seakan menganggap sebagai pertemuan terakhir.“Nggak perlu menangis. Ayah baik-baik saja,” ujar Marlan tersenyum.Ia menenangkan putrinya mengingat usia yang terus bertambah
Mata Faqih membulat sempurna saat menatap sosok yang sudah lama tak dijumpainya. Memerhatikan dari atas hingga bawah tampak cantik nan menawan.“Welcome Gus Faqih.” Wanita itu tersenyum sembari merentangkan tangannya berjalan maju. Kemudian berpelukan yang melupakan statusnya sebagai istri.“Nduk, har
Pria itu tak menjawab, tetapi langsung mengambil ponsel dan jarinya berselancar cepat di atas layar. Sedangkan Safa hanya memandang bingung, entah apa yang dilakukan suaminya.“Halo, Bang. Kau benar akan menikah dengan Intan Kurnia Fitri?”Azril mengerjap saat mendengar jawaban dari lawan bicaranya. T


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews