Jurnal Sang Dokter
Jurnal ketiga Romansa
Aku akan menceritakan sebuah kisah, kisah dari keteledoran, juga ketidaktahuan yang akhirnya menjadi bencana yang menyesakkan jiwa.
Sore itu ada seorang gadis berusia delapan belas tahun, menangis dan aku tahu tangisan itu bukan baru saja dia lakukan.
Mungkin dia sudah menangis sejak kemarin, bekas air mata itu tergambar jelas. Matanya sudah bengkak, menunjukkan ekspresi tidak karuan, kalut, kusut dan penuh kesedihan. Aku menerimanya, menyambutnya dengan segenap hatiku. Aku tidak berani menebak, meski aku tahu, semua pasien yang datang memiliki tujuan yang sama, melenyapkan sesuatu yang ada di tubuhnya.