Membiarkan Adik Iparku Meratap Di Pemakaman
Aku tahu bahwa meratap di pemakaman bangsawan Inglis dianggap sebagai tindakan yang tidak menghormati mendiang, tetapi kali ini aku justru membiarkan adik angkat suamiku menangis sampai meraung-raung di sana.
Semata-mata karena di kehidupan sebelumnya, salah satu kerabat bangsawan Inglis dari suamiku meninggal dunia. Pengacara mengatakan bahwa suamiku berhak mewarisi harta peninggalannya dan mengundangnya menghadiri pemakaman.
Adik angkatnya bersikeras ikut untuk melihat-lihat. Dia ingin menyanjung kalangan bangsawan agar menjadi pusat perhatian, bahkan berniat meratap keras di depan semua orang.
Aku segera menghentikannya. "Kaum bangsawan Inglis menganggap meratap di pemakaman sebagai hal yang tabu. Jangankan kebagian warisan, kita semua malah bisa diusir!"
Namun, adik angkat suamiku malah menangis dan menuduhku memandang rendah dirinya, menganggapnya tidak pantas berkenalan dengan bangsawan. Dia lalu berlari keluar dan akhirnya tewas ditembak oleh preman jalanan.
Kupikir suamiku akan kehilangan kendali, tetapi dia hanya diam, menyelesaikan seluruh prosesi pemakaman, lalu mewarisi seluruh harta peninggalan itu.
Enam bulan kemudian, tepat pada hari ulang tahun pernikahan kami, suamiku mengajakku ke pegunungan bersalju untuk berfoto. Begitu tiba di atas gunung, dia langsung memasukkanku ke kantong tidur dan mengikatku hingga tak bisa bergerak.
"Kalau dulu kamu nggak membesar-besarkan masalah, mana mungkin Ivana lari keluar sampai ditembak mati?"
Pada akhirnya, aku terkubur hidup-hidup oleh salju dan mati membeku, sementara suamiku menggunakan warisan bangsawan itu untuk menjadi pemilik perusahaan yang berhasil melantai di bursa.
Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari ketika adik angkat suamiku bersikeras ingin meratap di pemakaman.