Tolong Perlahan, Dokter Nate!
"Kenapa tidak? Kau berbakat di sana, Ariel. Kau punya kemampuan untuk menggambarkan hasrat dengan cara yang tidak bisa dilakukan orang lain. Bagaimana kalau kau tulis lagi? Aku yakin, tulisanmu pasti akan ramai seperti dulu. Kau butuh gebrakan untuk keluar dari bayang-bayang kegagalan ini."
Ariel menelan ludahnya lagi. Ia merasa seolah ditarik ke dalam pusaran air. Di satu sisi, ia ingin membersihkan namanya dengan karya sastra yang "serius". Namun di sisi lain, adrenalin dari menulis cerita yang berani itu memang selalu menggoda sisi gelapnya.
"Tapi aku... aku tidak punya inspirasi lagi, Dok. Aku sudah lupa rasanya," sanggah Ariel lemah.