Ketika Mertua Ikut Campur
“Mungkin penting, Mas. Udah sana, bibirnya jangan nempel terus.”
Perlahan tanganku menyingkirkan bibirnya dari wajahku.
“Lagi enak-enaknya juga.”
Dengan langkahnya yang berat, dia membuka pintu ruangan.
“Permisi Pak, saya mau melapor,” ucap seorang karyawan.
Aku membuntuti mas Lutfan, ingin tahu juga apa yang akan dibicarakan oleh mereka.
“Iya ada apa?”
“Begini Pak, sudah beberapa kali kami menemukan tanah yang tersebar disekitar toko kita, Pak. Warnanya kemerahan, seperti tanah kuburan, Pak.”