Tuan, Aku Hamil!
Dengan hati yang semakin hancur, aku memberanikan diri, menyampaikan apa yang harus kukatakan.
"Aku... aku hamil, Mas," bisikku, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu akhirnya keluar, tetapi begitu berat, seolah membawa beban ribuan batu yang telah lama kupendam.
Sekejap, udara di sekitar kami terasa membeku. Widodo terdiam, wajahnya perlahan berubah. Keterkejutan yang begitu nyata tampak di matanya, lalu bibirnya terbuka, mencoba merangkai kata-kata yang tak kunjung terucap. Keheningan yang menyakitkan membentang di antara kami, dan aku bisa merasakan jantungku berdebar semakin keras, seolah hampir pecah.