MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU
“Lahirkan anak untuk suamiku!” Dea menyodorkan cek tepat di depan Aurin. “Begitu kamu hamil, 500 juta ini milikmu.”
Jantung Aurin berhenti berdetak. Tatapannya berpindah, dari Dea ke cek itu. Tangannya dingin, tenggorokan ikut kering.
Aurin bahkan tak yakin apakah salah dengar, atau memang permintaan itu segila yang ia pikirkan.
“Nyonya ... saya tidak bisa.”
Dea mengangkat dagu, kesal. “Kenapa? Kurang?”
Aurin menggeleng. “Ini bukan masalah nominal. Terlalu beresiko.”
“Kalau mau uang, harus terima resiko.”
————
Malam itu, Aurin tidak tidur. Nominal yang ditawarkan majikannya, amat menggiurkan. Paginya, ia kembali dan berucap, “Saya setuju.”
———
Pintu kamar terbuka, Rayden tidur di sana.
Harusnya, Aurin naik, klimaks, dan selesai.
Tapi setelah melakukannya, mengapa ia enggan berhenti?