Sama-sama Egois
’]
Tanganku bergemetar aku sangat emosi saat ini, mengambil napas dalam-dalam mengeluarkan dengan rileks, aku mencoba menetralisir amarahku, kucoba meredam jiwa emosiku, ingin sekali aku membalas pesan Anjani tapi buat apa jika tuan tami saja menpersilahkannya masuk.
‘Cukup, Mas Abidin, kamu keterlaluan!” kutaruh ponsel tersebut dengar kasar keatas nakas.
Kuraih gamai miliku, tanpa kuketahui Mas Bima menghubungiku melalui pangilan masuk beberapa kali dan beberapa pesan darinya.
[‘Hay, Sorry, Sin. Bagaimana lukamu apa masih sakit?’]
[‘Aku menginap disini, Sin.’]
Bab Populer