Berpura-pura Miskin Demi Anak-Anakku
“Untung di sini masih banyak tenaga pendidik, saya jadi ketar-ketir kalo kelas malah kosong gara-gara guru izin terus. Kamu boleh pergi.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
Aku tak berani menatap, apalagi mengangkat kepalaku. Mataku masih menurun, mengontrol emosional dalam diri supaya tidak terlontar kata-kata kasar.
Kaki dan tanganku seakan kebas, kurasa lebih hancur saat mendengar sindiran paling lemah lembut, namun seolah-olah meledek.
‘Aku tahu, aku hanya sebagai guru nggak modal. Lihat! Mereka itu pegawai negeri sipil, tapi mereka bisa santai seenaknya di jam pelajaran.’