Penyamaran CEO Tanaka
Dan seperti refleks, ingatannya kembali ke sore-sore bersama Ardi — percakapan ringan mereka tentang arti rumah, tentang kebahagiaan, tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Ia menarik napas panjang, menatap langit kelabu.
“Kau tahu, Ardi…” bisiknya pelan, “…aku benci karena aku masih berharap kau datang lagi. Padahal aku tahu kau tak akan.”
Angin menjawab dengan lembut, meniup rambutnya yang lepas ke pipi.
Maya memejamkan mata, membiarkan perasaan itu keluar perlahan.