Tears
Arkan benar-benar tidak tenang karena terus berusaha menduga-duga.
"Seng sabar ya Neng. Hidup ini memang tidak mudah. Tapi Urip iku urup. Jalanilah apapun, selama kita hidup. Nyalakan hidup dengan keseimbangan ya Neng. Ya marah ya senang. Ya sedih, ya bahagia. Ya mudah, ya susah. Terima, dan serahkan semuanya pada Gusti Allah. Seng sabar ya, Neng." Ibell mengangguk-anggukkan kepalanya dalam dekapan erat asisten rumah tangga yang lebih pantas disebut sebagai neneknya itu. Ibell masih terus menangis sampai Arkan yang mendengarnya pun tidak tahan dan memilih untuk meninggalkan rumah kontrakan mahasiswi istimewanya itu.