SABDA CINTA
Bibir wanita itu cemberut.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Keadaannya darurat. Sumpah!" ucap Sabda sambil menunjukkan dua jarinya agar Cinta percaya.
"Alah, alasan. Bilang aja kamu pengen pegang tangan aku, kan?"
Sabda melongo mendengarnya, ternyata sifat Cinta tidak berubah. Narsisnya masih tinggi. Tanpa sadar Sabda tertawa terbahak-bahak, membuat Cinta meliriknya dengan tajam.