KINASIH
Kata-kata ibunya seakan magnet yang terus membuat dirinya berpikir ke arah itu.
Mariana mengambil sebuah berkas di laci, membuka dan membacanya dengan teliti. Dia merasa getaran di dada, saat sebuah nama tertera di sana.
Adalah Rosma. Wanita yang kini masih menjadi pasien rumah sakit jiwa, karena depresinya semakin menjadi. Mariana tersenyum, lalu memukulkan pena pada nama tersebut, seraya berkata lirih hampir tak terdengar. "Kau bisa mendapatkan Wijaya, tapi tidak dengan anakmu. Selamanya, Asih adalah milikku, Anakku."
Sikat na Kabanata