DOSA TERINDAH
Kak Dian masih meracau.
“Astaghfirullah! Kok bikin dosa, kak? Kami kan suami istri,” protes Ivan.
“Iya tapi nggak disini juga kali gituannya!”
Kurasa wajahku memerah, apalagi di belakang Kak Dian ada Bang Malik – suaminya.
“Kami nggak ngapa-ngapain, Kak,” gumamku pasrah.
“Ah, sudahlah! Mau ngapa-ngapain juga nggak ada yang negelarang. Dasar suami istri sama-sama bucin!”