Malam pemaksaan yang dilakukan kakak angkatnya yang bernama Martin membuat Mona akhirnya hamil. Mona berniat melaporkan perbuatan terlarang itu pada orang tua mereka. Tetapi perkataan Martin berhasil mengurungkan niatnya. Bahwa Mona memutuskan tidak ingin kebahagiaan mama dan papa barunya harus kandas di sidang perceraian, karena mereka pasti akan memaksa Martin untuk menikahinya. Bahkan orang tua mereka baru menikah satu bulan yang lalu. Tetapi kehamilan ini akan terungkap juga jika dibiarkan tumbuh di dalam perut. Berpikir untuk menggugurkannya, Mona tidak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Sedangkan Martin justru sibuk mempersiapkan rencana pernikahan dengan tunangannya. Akankah Mona memilih untuk menggugurkan kandungannya atau menunggu keajaiban datang dari Martin untuk melamarnya?
View MoreKembang api meletus di langit, menerangi malam dengan kilatan merah, emas, dan biru. Suara ledakannya menggema, memecah kesunyian rumah besar yang sepi. Orang tuanya pergi, menghabiskan tahun baru di luar kota, meninggalkan Mona sendirian.
Tapi dia tidak benar-benar sendirian.
Mona terbaring di tempat tidurnya, selimut setengah terguling, tubuhnya terlelap dalam mimpi hangat. Rambutnya yang hitam terurai di bantal, kulitnya bersinar lembut dalam cahaya bulan yang menyelinap lewat tirai.
Lalu—
Pintu kamarnya terbuka dengan kasar.
Mona bangun dengan terkejut, jantungnya berdebar kencang. "Siapa—?"
Martin berdiri di sana, tubuhnya limbung, napasnya berat dengan bau alkohol. Matanya gelap, penuh dengan sesuatu yang membuat Mona langsung waspada.
"Martin?" Suaranya gemetar. "Apa—apa yang kamu lakukan di sini?"
Dia tidak menjawab. Hanya melangkah masuk, menendang pintu tertutup di belakangnya. Mona meraih selimut, menariknya ke dada, tapi Martin sudah mendekat. Tangannya yang panas menyentuh pahanya, membuatnya kaku.
"Jangan," bisiknya.
Tapi Martin tidak mendengarkan. Napasnya panas di kulit Mona saat dia membenamkan wajahnya di lehernya, mencoba menahan gerakannya yang mulai panik.
"Kamu selalu—" suaranya parau, "—selalu bikin aku gila."
"Kamu selalu… selalu lihat aku dengan cara itu," gumam Martin, serak. "Aku tahu."
Mona mencoba menarik lengannya, tapi cengkeramannya semakin kencang. "Aku nggak ngerti—"
"Jangan bohong." Dia mendorongnya ke kasur, tubuhnya yang besar menindih dengan berat. "Aku lihat caramu memandangiku. Kamu menginginkanku."
Mona menggigil. Ya, dia pernah menyukainya. Tapi bukan seperti ini. Tidak pernah seperti ini.
"Martin, kamu mabuk—"
"Dan kamu menyukaiku," desisnya, bibirnya menyentuh telinganya. "Jadi kenapa kamu berpura-pura?"
Tangan panasnya menyusup ke bawah baju tidurnya, dan Mona memberontak—tapi tubuhnya terlalu kuat. Alkohol membuatnya kasar, tapi juga membuatnya yakin pada kebenarannya sendiri.
"Kamu ingin ini," bisiknya, gigi menekan kulit leher Mona. "Aku bisa merasakannya."
Mona memalingkan wajah, air matanya menghangatkan pipi. Dia mencoba mendorong lagi, tapi Martin menganggapnya sebagai permainan—genggamannya semakin keras.
Dan di luar, kembang api terus meledak, menyala dalam warna-warni palsu yang seolah menertawakannya.
"Tidak…"
Tapi kata itu tertahan di tenggorokannya ketika Martin mengunci bibirnya dengan brutal.
Martin tidak berhenti.
Dan perlahan—dengan air mata yang panas mengalir di pipi—Mona menyerah.
***
Mona terbangun dengan napas tersengal.
Sesaat, dia bingung—badannya sakit, kepalanya pening, dan ada kehangatan asing di sampingnya.
Lalu ingatan itu menghantam.
Kembang api. Martin yang mabuk. Tangannya yang memaksa.
Dia menoleh pelan.
Martin ada di sana.
Tidur telanjang di sebelahnya, satu lengan terkulai di atas wajahnya, seperti sedang menghalangi dunia. Selimut hanya menutupi separuh tubuhnya, memperlihatkan bekas cakaran di bahunya—cakaran Mona saat melawan.
Perutnya mual.
Tanpa suara, Mona menangis. Tubuhnya gemetar, tangan menekan mulut agar tidak menjerit. Ini bukan bagaimana seharusnya pertama kalinya. Bukan dengan paksaan. Bukan oleh seseorang yang—
"Dia kakak tiriku."
Pikiran itu menusuk lebih dalam dari apapun.
"Ini bukan pertama kalinya tidur dengan seseorang," pikirnya getir.
Dia sudah bukan perawan. Sudah melakukan hubungan intim sejak umur 15—budaya barat, saat teman sekolahnya mengajari "hal dewasa" di malam hari saat tugas kelompok.
Tapi setidaknya waktu itu, dia dibekali ilmu. Tahu cara menolak kalau tidak mau. Tahu harus minum apa setelah melakukan itu. Tahu apa saja resikonya.
Tapi malam ini?
Suara tangisnya tidak sengaja mengusik Martin, dan pria itu terbangun, mengerutkan kening sebelum matanya terbuka lebar.
"A-Apa…?" Martin menggosok matanya, lalu melihat Mona, melihat diri mereka, melihat kamar ini. Wajahnya berubah pucat.
"Mona, apa yang—"
"Kamu memperkosaku," bisik Mona, suaranya pecah.
Martin menggeleng, duduk tiba-tiba. "Nggak. Nggak mungkin. Aku tidak—"
"Kamu mabuk. Kamu masuk kamarku. Aku melawan, tapi—"
"Tunggu, tunggu." Tangannya menengadah, seperti mencoba menangkap ingatan yang hilang. "Aku nggak… Aku nggak ngelakuin itu."
Mona tertawa getir, menarik selimut menutupi tubuhnya. "Tanya saja pada cakaran di bahumu."
Martin menyentuh bahunya, dan wajahnya berkerut.
"Aku bisa hamil," desis Mona tiba-tiba, suaranya hampir histeris. "Kamu tidak pakai apa-apa, Martin! Kamu tidak pakai kondom!"
Martin terdiam.
Lalu, seperti tersadar, dia melompat dari tempat tidur, mengambil celananya yang tergeletak di lantai. "Ini… ini cuma kecelakaan, Mona. Aku mabuk. Aku nggak ingat apa-apa."
Kecelakaan.
Kata itu menggantung di udara, lebih menyakitkan daripada tamparan.
Martin memakai bajunya dengan cepat, menghindari tatapan Mona. "Kita… kita harus lupakan ini. Aku punya tunangan. Kita nggak boleh cerita ini ke siapa-siapa."
Mona tidak menjawab.
Dia hanya duduk, memeluk lututnya, menatap Martin berjalan keluar—seperti semalam tidak pernah terjadi.
Pintu tertutup.
Dan di kamar yang sunyi, Mona akhirnya menjerit.
Bau alkohol dan seks masih menggantung di udara, membuat perutnya mual.
Ini benar-benar terjadi.
Dia menatap telapak tangannya—masih ada bekas kuku mencengkram dari saat dia berusaha melawan. Tubuhku...
"Aku bisa hamil."
Gagasan itu menyambar seperti petir. Matanya membelalak sebelum buru-buru meraih ponsel di lantai. Jari-jarinya menari liar di layar:
"Efek pil KB darurat"
"Berapa lama harus minum pil pasca hubungan?"
"Apotek buka jam berapa hari tahun baru?"
Setiap hasil pencarian membuat dadanya sesak. 72 jam. Masih ada waktu. Tapi—
"Harus beli sendiri. Harus menjelaskan pada apoteker. Harus bohong pada orang tua."
Air mata mulai menitik di layar ponsel. Bayangan apoteker setengah baya menatapnya sinis, atau lebih buruk—kenalan orang tuanya yang bekerja di apotek dekat sekolah—membuat tenggorokannya kering.
Kalau sampai Mama tahu...
Dia memeluk bantal, menekan wajahnya ke dalam kapas yang sudah tidak lagi berbau aman. Dia harus memutuskan sekarang. Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi—orang tuanya akan pulang sebelum sore.
***
"Tandatangani kerjasama denganku kalau kau ingin adikmu baik-baik saja.""Siapa yang sudi bekerja sama dengan pecandu sepertimu! Yang ada bisnisku merugi!""Oh? Tidak mau? Kalau begitu biar adikmu saja yang bekerja sama denganku." Pria baya itu langsung mendorong jatuh Mona ke tanah.Kemudian dia mendudukinya dengan membelakangi Martin. "Kau begitu cantik. Aku ingin memeriksamu apakah tubuhmu mulus atau rusak.""Tidak! Jangan!" Mona memberontak. Namun kedua tangannya diikat di belakang membuat dia tidak berdaya. Akhirnya kancing seragamnya berhasil dibuka oleh pria baya itu."Tidak ada kecacatan di tubuhmu yang mulus," komentar Sellon setelah melihat tubuh bagian atas Mona yang hanya mengenakan bra.Mona merasa sangat malu. Lebih malu daripada di hadapan Martin. Oh sial. Perasaan macam apa ini!"Hentikan! Jauhkan tangan kotormu dari Mona!" teriak Martin. Giginya menggeram. Sementara diam-diam dia memotong tali di pergelangan tangannya menggunakan pisau lipat yang dia siapkan sejak tad
"Mona, kakakmu menjemputmu." Tom melihat dari jendela lantai dua di perpustakaan."Aku tidak mau pulang dulu. Tom, bisakah kamu membantuku? Please.""Membantu bagaimana? Kamu ingin kabur dari kakakmu? Tapi ini sudah malam loh. Apa tidak dicariin orang tua di rumah? Pikirkan lagi." Tom bingung.Mona menunduk murung. "Pulanglah duluan, Tom. Jika dia bertanya keberadaanku, katakan saja aku sudah pulang naik bus.""Aku tidak tahu ada permasalahan apa di antara kalian. Baiklah, aku pulang duluan." Tom tanpa rasa curiga pada Mona, pamit pergi dari sekolah. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Kelas tambahan sudah bubar setengah jam lalu. Masih banyak anak murid di dalam sekolah walau tidak seramai saat siang hari. Rata-rata mereka menghabiskan waktu untuk belajar di kelas tambahan demi mendapat nilai memuaskan.Mona mengintip dari jendela. Memperhatikan Tom yang berjalan mendekat ke arah Martin menunggu di pos.Sesuai dengan dugaan, Martin menghentikan Tom. Mereka tampak berbic
Mona keluar dari sekolah saat langit sudah gelap. Malam pukul sembilan setelah selesai mengikuti kelas tambahan.Dijemput Martin yang sudah menunggu di depan sekolah. Mau tak mau Mona masuk ke dalam mobil dan membisu.Lambat laun gadis itu ketiduran saat dalam perjalanan pulang. Tidak mendengar suara yang diucapkan Martin yang sedang fokus mengemudi."Mona, apa kau sudah makan? Papah dan mama sedang ke luar kota hari ini. Di rumah tidak ada makanan, bagaimana kalau kita mampir." Lalu Martin menyadari kalau gadis itu sudah terlelap.Setibanya di rumah, Mona terbangun tanpa sempat dibangunkan. Dia membuka sabuk pengaman, dan tanpa mengatakan apapun pada Martin lantas masuk ke dalam rumah."Mona, jangan lupa mandi dan makan malam dulu!" Suara Martin di belakang, diabaikan Mona yang menaiki tangga.Dengan inisiatif tinggi, Martin menyiapkan makan malam sederhana di dapur. Kemudian dia membawanya ke kamar Mona.Ketukan pintu tidak dijawab oleh Mona di dalam sana, membuat Martin membuka pin
"Kak Martin! Mau kemana!" Mona panik ketika ditinggalkan pria itu."Tetap di sini, aku mau menyapa tamu lain." Martin pergi begitu saja. Ini menyebalkan bagi Mona. Seakan dirinya dicampakkan."Hai cantik. Kenapa ada anak sekolah di sini?" Seseorang menyapanya dengan senyum genit."Siapa kamu?" Mona mendelik tajam. Menjaga jarak."Aku salah satu tamu di sini. Di mana orang tuamu?"Mona kesal dengan orang yang sok akrab. Terlebih wajah pria baya itu melihatnya dengan tatapan mencurigakan.Lantas Mona pergi lewat pintu masuk tadi. Tiba-tiba tangannya dicekal pria baya itu dari belakang."Jangan dingin begitu dong, cantik. Katakan, di mana orang tuamu? Atau kamu datang sendirian?" Pria baya itu memaksa saat Mona berusaha melepaskan diri."Apa yang kau lakukan padanya?" Suara Martin akhirnya datang. Menyelamatkan Mona sesaat dari pria baya yang mesum itu."Aku hanya mengobrol dengannya. Apakah kalian pasangan?" tanya pria baya itu melihat Martin dan Mona bersama."Kami bersaudara," tegas
"Mona, karena nilaimu bagus, maukah kau mengikuti kompetisi olimpiade eksak?" Wali kelasnya bicara empat mata dengan Mona di ruang guru.Mona terkejut mendapat tawaran tersebut. "Bagaimana dengan pelajaran sehari-hariku kalau aku fokus belajar untuk olimpiade?" balas Mona membutuhkan kejelasan."Setiap peserta akan dapat kompensasi pelajaran. Nilaimu tidak akan dikurangi meski tidak hadir dalam kelas karena harus mengikuti kelas intensif nanti," jelas wali kelas itu."Aku bersedia," pungkas Mona tanpa keraguan.Sejak saat itu, jika murid lain sudah pulang sejak sore hari, Mona bersama peserta olimpiade lain masih berkutat di dalam sekolah. Mona jadi lebih sering pulang larut malam, sekitar jam sepuluh baru keluar dari sekolah.Untungnya hal tersebut diperbolehkan orang tuanya karena alasan yang dimaklumi. Padahal alasan Mona yang sebenarnya mengikuti kelas intensif ini hanya ingin menghindari Martin. Juga, dia tidak suka berada di rumah. Meskipun rumah yang ditempatinya mewah, namun k
MonamasihterkurungolehtubuhbesarMartin yang shirtless. Mona dan Martinsalingberhadapandengantatapanpenuhemosiyangtakterungkap.Suasanadisekitarmerekabegituhening,hanyaterdengarhembusanburungberkicauyangberasaldaritamanrumahyangdamai. Diamerasakandenyutanjantungnyaberdetaktidakkaruan,sepertimembenamkandirinyadalamsamudraemosiyangtakterduga."Apa yangkamurencanakan?"desisMonadengannadageram.Matanyamemancarkanapiyangmenggelora,menunjukkantekadnyauntuktidakterperangkapdalampermainanyangtak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments