Imperfect Love
“Kan, kalau dihitung-hitung, ini belum masa subur. Ingat, kan, kata dokter tadi. Kalau bikinnya pas masa subur, kemungkinan jadi bayinya lebih besar. Jadi, tenaganya disimpen aja dulu, nunggu masa suburnya dateng.”
“Hun, nggak begitu juga.” Bisa gawat kalau Byakta harus menunggu sekian lama, hanya untuk menunggu masa subur Yasmen itu tiba. “Omongan dokter jangan diartikan lain. Maksudnya itu, lebih baik kalau berhubungan suami istri dijadwal dulu, kalau memang mau punya anak. Jadi, bukan nungguin masa subur, baru berhubungan suami istri.”
“Tapi aku maunya nunggu masa subur, Bee,” bujuk Yasmen sambil merapatkan diri pada Byakta. “Biar cepet jadi!”