LOGINDemi membayar utang ayahnya sebesar satu miliar, Indira terpaksa menikah dengan Ilham, majikannya dengan bayaran dua miliar untuk melahirkan anak dalam waktu satu tahun. Satu tahun kemudian, anak itu lahir. Berdasarkan perjanjian Indira harus pergi dari rumah itu. Dia pun pergi tanpa membawa uang sepeser pun. Lima tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Karena desakan sang anak yang terus menanyakan ibunya, Ilham harus membawa Indira kembali ke rumah dengan berbagai alasan. Akankah Indira mau kembali pada Ilham?
View MoreAroma kopi yang pekat berbaur dengan wangi manis dari croissant mentega, menciptakan sebuah selimut hangat yang memeluk siapa pun yang melangkah masuk ke "Kopi Senja". Bagi Elara, aroma ini adalah napasnya, melodi dari hari-harinya. Di balik konter kayu ek yang mengilap, gerakannya lincah dan presisi. Jemarinya menari di atas mesin espreso, menghasilkan desisan uap dan aliran cairan hitam pekat yang sempurna. Senyumnya, meski lelah setelah seharian berdiri, tak pernah luntur saat menyajikan pesanan.
"Kopi susu gula aren untuk Mbak Rina," ujarnya riang, meletakkan cangkir keramik dengan latte art berbentuk hati yang sedikit miring. "Hati-hati, masih panas." Wanita bernama Rina itu tertawa kecil. "Hatimu yang miring atau kopinya, El? Terima kasih, ya." Elara hanya membalas dengan cengiran. Kopi Senja adalah dunianya. Sebuah kafe kecil yang nyaman di sudut jalan yang tidak terlalu ramai, tempat para pekerja kantoran melepas penat dan mahasiswa mencari inspirasi. Setiap sudutnya terasa akrab, dari tumpukan buku di rak pojok hingga alunan musik jazz instrumental yang mengalun pelan. Namun, setiap hari pada pukul empat sore, kehangatan itu seolah menyusut, ditarik paksa oleh sebuah kehadiran yang membuat udara terasa lebih dingin beberapa derajat. Lonceng di atas pintu berdentang pelan, bunyinya terdengar lebih tajam dari biasanya. Seketika, bisik-bisik pelan di antara pelanggan mereda. Elara tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ia bisa merasakannya aura dingin yang menusuk, begitu kontras dengan kehangatan kafe. Ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan senyum profesionalnya, lalu berbalik. Di sana, di ambang pintu, berdiri sesosok pria yang seolah berjalan keluar dari sampul majalah bisnis. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut setelan abu-abu arang yang seolah ditenun dari bayangan dan presisi. Setiap helai rambut hitamnya tertata sempurna, dan garis rahangnya setajam pisau. Namun, bukan penampilannya yang sempurna yang membuat orang menahan napas. Itu adalah matanya. Sepasang mata gelap, sedalam obsidian, yang memantulkan kehampaan. Tidak ada kehangatan, tidak ada minat, hanya ada kekosongan yang membekukan. Pria itu, Kian Alvaro, CEO dari Alvaro Corp, raksasa teknologi yang gedungnya menjulang angkuh beberapa blok dari sini. Dalam hatinya, Elara memberinya julukan: Tuan Tanpa Rasa. Tanpa sepatah kata pun, Kian berjalan melintasi ruangan. Langkahnya tak bersuara di atas lantai kayu, menuju meja yang sama di sudut paling terpencil, yang menghadap ke jendela tetapi selalu tertutup tirai tipis. Seolah-olah ia ingin melihat dunia luar tanpa dilihat kembali. Elara sudah menyiapkan cangkir. "Pesanan biasa, Tuan?" tanyanya, suaranya berusaha terdengar stabil, menolak untuk terintimidasi. Kian hanya mengangguk singkat, tatapannya tak pernah benar-benar fokus pada Elara. Ia lebih seperti menatap menembus dirinya. "Americano, tanpa gula," Elara menggumam pada dirinya sendiri sambil mulai bekerja. Setiap hari ritualnya sama. Kian akan duduk di sana selama tepat satu jam, menyesap kopinya perlahan, tatapannya kosong. Ia tidak pernah membuka laptop, tidak pernah membaca buku, tidak pernah menjawab telepon. Ia hanya duduk, diam, diselimuti aura kesendirian yang begitu pekat hingga terasa menyesakkan. Para pelanggan lain akan mencuri-curi pandang, berbisik tentang kesepakatan bisnis triliunan rupiah yang baru saja ia tutup atau tentang pesaing yang ia hancurkan tanpa ampun. Bagi mereka, Kian Alvaro adalah predator di puncak rantai makanan korporat. Tapi bagi Elara, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih ganjil. Ia pernah teringat dongeng yang sering diceritakan neneknya sebelum tidur. Cerita tentang makhluk-makhluk musim dingin yang terperangkap dalam wujud manusia, membawa hawa dingin abadi ke mana pun mereka pergi. Tentu saja itu konyol. Ini Jakarta, bukan negeri dongeng bersalju. Namun, setiap kali Kian berada di dekatnya, Elara bisa merasakan bulu kuduknya meremang karena sensasi dingin yang tak wajar. "El, aku harus pulang cepat, ya," suara Pak Budi, pemilik kafe yang baik hati, membuyarkan lamunan Elara. "Anakku demam. Kamu bisa tolong tutup kafe malam ini? Nanti uang lemburnya aku lebihkan." "Tentu saja, Pak. Tidak masalah," jawab Elara tulus. "Semoga lekas sembuh untuk putranya." "Terima kasih banyak, El. Kamu memang bisa diandalkan." Setelah memberikan beberapa instruksi, Pak Budi bergegas pergi, meninggalkan Elara sendirian di balik konter. Satu per satu pelanggan mulai pergi seiring senja yang berganti malam. Lampu-lampu jalan di luar mulai menyala, memantulkan cahaya kuning hangat di jendela kafe. Suasana menjadi sunyi, hanya menyisakan Elara dan Tuan Tanpa Rasa di sudut gelapnya. Keheningan terasa lebih berat sekarang. Biasanya, obrolan ringan Pak Budi akan mengisi kekosongan ini. Elara mulai membersihkan meja, menyapu lantai, gerakannya sengaja ia buat sedikit lebih berisik untuk memecah kesunyian yang canggung. Ia melirik ke arah Kian. Pria itu masih di sana, cangkirnya sudah lama kosong, tetapi ia belum beranjak. Pandangannya terpaku pada rintik hujan pertama yang mulai membasahi kaca jendela. Wajahnya, yang diterpa cahaya temaram dari dalam, tampak pucat pasi. Ada sebersit kerapuhan di sana, sesuatu yang belum pernah Elara lihat sebelumnya. Sesuatu yang dengan cepat lenyap saat Kian menyadari tatapannya. Mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Elara merasakan sengatan listrik dingin menjalari tulang punggungnya. Ia buru-buru membuang muka, jantungnya berdebar kencang. Sudah waktunya tutup. Dengan langkah ragu, Elara berjalan ke pintu depan untuk membalik tanda "BUKA" menjadi "TUTUP". Ia menarik napas, bersiap untuk mengucapkan kalimat yang paling ia takuti malam ini. "Maaf, Tuan. Kami sudah akan tutup." Tidak ada jawaban. Kian masih mematung di kursinya. Elara menelan ludah. "Tuan Alvaro?" Perlahan, Kian berdiri. Gerakannya kaku, seolah setiap sendinya terasa sakit. Ia berjalan menuju kasir untuk membayar, meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja jauh lebih banyak dari harga kopinya. "Kembaliannya..." "Simpan saja," potong Kian, suaranya serak dan dalam, kata pertama yang ia ucapkan malam itu. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Elara menghela napas lega. Akhirnya. Ia bisa mengunci pintu dan pulang. Ia mengikuti Kian dari belakang, siap menarik pintu geser setelah pria itu keluar. Namun, Kian berhenti tepat di ambang pintu. Punggungnya yang lebar menghalangi seluruh jalan keluar. "Tuan?" tanya Elara bingung. Kian tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung. Hujan di luar semakin deras, menciptakan tirai air yang menghalangi pandangan. Saat itulah Elara menyadarinya. Tangan Kian yang terkepal di sisinya bergetar hebat. "Anda baik-baik saja?" Elara melangkah lebih dekat, rasa cemas mengalahkan rasa takutnya. "Jangan," desis Kian, suaranya terdengar penuh penderitaan. "Jangan mendekat." Elara membeku. Peringatan itu terasa begitu nyata, begitu mendesak. Tepat pada saat itu, lampu utama kafe berkedip dua kali sebelum akhirnya padam total, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang hanya ditembus oleh cahaya remang dari lampu jalan dan papan nama kafe. Listrik padam. Sesuatu yang biasa terjadi saat hujan deras. Elara meraba-raba mencari ponselnya, menyalakan senter. Cahayanya langsung menyorot pintu depan, tempat Kian masih berdiri. Dan pemandangan yang menyambutnya membuat darahnya seolah berhenti mengalir. Kian Alvaro sedang mencengkeram wajahnya dengan kedua tangan. Dari sela-sela jarinya yang panjang dan pucat, bukan kulit yang terlihat, melainkan sesuatu yang bersinar. Cahaya hijau keperakan yang lembut, seolah ada batu giok cair yang meleleh di bawah kulitnya. Pria itu terhuyung ke belakang, punggungnya menabrak pintu kaca dengan keras, menimbulkan suara dentuman yang mengerikan. "Argh!" Erangan kesakitan yang tertahan lolos dari bibirnya. Itu bukan suara seorang CEO yang berkuasa, melainkan rintihan hewan yang terluka. Elara terpaku di tempat, senter di tangannya gemetar hebat. Dongeng neneknya tentang makhluk malam, tentang kutukan, tentang perubahan wujud yang menyakitkan, semua berkelebat di benaknya. Ini tidak mungkin nyata. Ini pasti hanya ilusi yang diciptakan oleh kegelapan dan ketakutannya. Kian perlahan menurunkan tangannya. Wajah yang menatap balik ke arah Elara dalam sorotan cahaya senter bukanlah wajah Kian Alvaro. Kulit, tulang, dan ekspresi manusianya telah lenyap. Sebagai gantinya, ada sebuah topeng. Topeng giok yang mulus, bersinar dengan cahaya supernatural, menutupi seluruh wajahnya. Topeng itu tidak memiliki ekspresi, tetapi Elara bisa merasakan tatapan panik dan ngeri dari dua lubang mata kosong yang kini menghadap lurus ke arahnya. Malam telah tiba, listrik telah padam, dan pintu menuju dunia luar tertutup rapat. Elara terperangkap di dalam, bersama badai yang menyamar sebagai manusia, yang kini telah menunjukkan wujud aslinya yang mengerikan.Setahun kemudian, Indira sudah melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Ilham memberinya nama Keyra Salsabila. Indira masih tinggal di rumah yang dibeli Ilham sebelum mereka menikah dan tiga bulan sebelum melahirkan Ilham memboyong mbak Rohiman ke rumah itu untuk membantu Indira sesuai permintaannya. Kebahagiaan Ilham terasa lengkap dengan lahirnya anak perempuan itu. Dia pun semakin cinta dengan Indira dan keluarga kecilnya. Tidak ada lagi yang Ilham inginkan selain hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Karena kondisi Indira sudah pulih, Ilham minta Indira memasak makanan untuknya, termasuk bekal makan siang. Lidahnya sangat cocok dengan masakan istrinya dan mengesampingkan makanan lain meskipun itu dari restoran ternama. Siang itu Ilham sudah menunggu bekal makan siang yang dijemput Dedi ke rumah. Ilham : Sayang, sudah diantar belum makan siangnya? Mas sudah laper banget ini. Indira : Sudah, Mas. De
Tamu undangan mengantre untuk memberikan ucapan selamat pada Indira dan Ilham. Siang itu mereka harus menyiapkan tenaga untuk menyambut banyak tamu di acara resepsi yang memang langsung digelar setelah akad nikah tadi. Ruangan resepsi itu ramai dengan tamu-tamu yang antre salaman, menikmati hidangan dan mengobrol. Kenzi sedang bermain bersama Linda di luar ruangan acara. Anak yang berusia 10 tahun itu sedang malas berada di dalam ruangan yang sesak dengan banyak orang. Dia lebih suka duduk di luar bersama Linda sehingga tidak perlu capek berbagi oksigen dengan orang lain. “Kenzi tadi sudah foto kan sama mama, papa?” tanya Linda di luar ruangan. “Sudah, Tante. Oh ya, Tante kapan mau nikah?” “Hei, kamu masih kecil kok penasaran sih tanya kapan Tante nikah? Doain aja ya, Kenzi yang ganteng. Kamu seneng enggak papa sama mama nikah? Dulu mereka juga sudah pernah nikah, tapi harus pisah.” “Tante, aku sudah tahu cer
Ilham terkesiap. Pria itu masih belum percaya jika perempuan yang ada di hadapannya itu menerima lamarannya. “Dira, kamu benar-benar menerima lamaran saya? Kamu lagi enggak bercanda kan, Dira?” Saking seringnya ditolak, Ilham pun sudah pasrah dengan keputusan Indira hari ini. Pria itu terlalu bahagia saat ini. “Iya, Mas. Kalau saya tolak kan enggak mungkin saya bilang iya.” Indira tersenyum sekali lagi dan membuat hati Ilham meleleh. Pria itu pun menyematkan cincin di jari Indira. Dia tersenyum puas karena perjuangannya selama ini tidak berakhir sia-sia.“Kita harus buru-buru kasih tahu Kenzi nih kalau sebentar lagi kita akan tinggal bersama lagi.” Indira tidak setuju dengan ucapan Ilham itu. “Jangan dulu, Mas. Nanti saja tunggu selesai akad, kita baru kasih tahu Kenzi.” Ada banyak yang ingin Ilham diskusikan dengan Indira, dia pun menarik Indira ke sofa dan duduk bersamanya di sana. “Ada syarat
Indira tiba di rumah sakit, di kamar tempat Ilham dirawat, di sana dia melihat pria itu terbaring lemah dia tas brankar. Indira menghampiri Kenzi lebih dulu. “Kamu beneran enggak apa-apa, Sayang?” tanya Indira sambil memeriksa keadaan Kenzi. “Aku enggak apa-apa kok, Ma.” Indira terua memeriksa tubuh Kenzi sampai dia merasa yakin anak itu benar-benar dalam keadaan baik-baik saja. “Kenzi sudah makan? Aduh, Mama tadi lupa bawa makanan ke sini. Nanti kita cari makan di luar aja ya, Sayang.” Indira menatap Kenzi masih dengan perasaan khawatir. “Kenzi tunggu di sini ya, Mama mau lihat kedaan papa dulu.” Indira lalu beralih mendekati Ilham. Dia kasihan pada pria itu. Indira sendiri masih belum tahu keadaan Ilham yang sebenarnya. Dia pun duduk di kursi di dekat brankar Ilham.“Mas, gimana keadaannya? Apa ada yang kerasa sakit?” Indira hanya bisa menatap Ilham dan tidak bisa memeriksa kondisi tubuh pria itu seperti dia
“Hm … gitu ya? Jadi, kamu maunya sewa apartemen ini untuk berapa lama?” tanya Ilham pada Indira agar tidak salah lagi. “Satu tahun mungkin ya, Mas?” “Tapi, kamu suka kan dengan apartemen ini? Di sini sudah ada furniturenya, lengkap malah. Jadi, kamu enggak perlu belanja lagi buat beli ini itu.”“
“Mas Renal serius jatuh cinta sama saya? Duh, gimana ya?” Renal tahu Indira sedang bingung dengan pernyataannya yang tiba-tiba itu. “Kenapa? Apa aku enggak boleh jatuh cinta sama kamu, Dira?”“Bukan itu sih, Mas.” Indira bingung harus mengatakan apa.“Ka
Ilham terkejut mendengar pertanyaan Yanti. Apakah dari yang terlihat dia masih mengharap Indira kembali menjadi istrinya? Jawabannya tentu saja ya. Kini, sosok istri terbaik yang diinginkan Ilham semua ada pada Indira. Seorang perempuan mandiri yang tidak pernah lupa akan kodratnya sebagai seorang
Ilham yang sudah melajukan mobilnya ke arah mal bersama dengan Kenzi, akhirnya, membatalkan rencananya. Dia memutar arah lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. “Kenzi, ke mal-nya enggak jadi aja, gimana? Kayaknya tadi mama lagi masak sama om Renal. Kalau kita pulang ke rumah mama terus nyoba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.