Rumah Tengah Hutan
“Maaf, kalau saya membuat teman-teman santri menangis. Bukan itu yang saya harapkan. Tapi, beranjaklah dari sekarang ini untuk membenahi diri. Sudahlah, hal yang sudah lewat jadikanlah sebuah pelajaran. Untung kalian masih bisa menangis, pertanda bahwa hati hidup. Dan yang tidak menangis, menangislah sekarang juga.”
Lagi-lagi semua santri tertawa mendengar sedikit lelucon yang dikatakan gus Malik. Bagaimana tidak, gus yang tadi minta maaf karena membuat menangis, sekarang malah menyuruh santri untuk menangis. Sekarang, saya menjadi percaya, gus itu bebas.
Ada satu lagi manusia yang bebas dalam menjalani hidup ini, terbebas dari tekanan syariat, adalah orang gila. Jadi, kalian yang ingin beba
Hot Chapters