Aku Menyerah, Mas!
Saat sedang berada di jalan raya yang letaknya tidak jauh dari rumah, aku menghentikan sejenak kendaraan roda duaku di depan tukang martabak red velvet yang biasa dipinta oleh Thalita juga Kanaya, namun, tidak pernah sekalipun aku membelikan karena harganya yang cukup mahal.
Lima puluh lima ribu satu loyang, dan itu menurutku sangat mahal sekali. Tapi entah mengapa jika Adelia dan Ibu meminta dibelikan sesuatu yang harganya fantastis juga menguras dompet, aku tidak pernah merasa keberatan sama sekali.
“Bang, martabak red velvetnya satu ya!”
“Baik, Pak. Silakan tunggu ya, Pak.”
“Hm!” Aku mengangguk lemah.