Kalau aku denger orang tua bilang anaknya 'addicted', yang kepikiran pertama adalah kebingungan campur takut: mereka lagi ngomong soal kebiasaan yang udah nyantol banget sampai susah lepas. Bagi orang tua, 'addicted' biasanya berarti perilaku yang berulang terus-menerus meski ada konsekuensi negatif — anak susah tidur, nilai turun, malas makan, atau menarik diri dari keluarga dan teman. Perasaan orang tua seringkali campur aduk; mereka bisa marah, sedih, atau ngerasa gagal karena ngga bisa mengatur batas.
Praktisnya, itu bukan cuma soal jam layar atau frekuensi main game; ini juga soal kontrol. Kalau anak terus-terusan mikirin aktivitas itu, ngga bisa berhenti tanpa gejala cemas atau marah, atau aktivitas itu ganggu tugas sehari-hari, itu tanda kuat. Aku juga sering ngeliat bahwa kecanduan sering ditemani masalah lain: stres di sekolah, kesepian, atau rasa pencapaian yang dicari lewat dunia digital.
Langkah yang biasanya kubilang ke orang tua adalah: jangan langsung menghukum, coba bicara dengan kalem, atur rutinitas bersama, dan sediakan alternatif positif (olahraga, hobi, waktu keluarga). Kalau situasinya parah dan ada perubahan perilaku drastis, minta bantuan profesional. Intinya, empati plus batas yang konsisten lebih efektif daripada larangan total, dan itu selalu bikin aku lega ketika ada perkembangan kecil yang positif.