Luka Seorang Istri
Bapak dan Ibu sibuk menelepon, entah siapa mungkin dokter.
“Jangan bikin Mas takut, cerita Dil kamu kenapa?”
“Mas,” lirih Dilra, matanya basah, jelas sekali dia tengah menahan sakit.
“Iya, Sayang kenapa?” ucapku, seraya menggenggam erat lengannya yang terasa dingin.
“Mas, aku mau menyusul Aira, kasihan dia, katanya kangen sama aku.”
“Astaghfirrullah Dil, istighfar sayang!” Sungguh tak tahan kurengkuh Dilra, menenggelamkan kepalanya dalam dada, mengecup keningnya.